FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

Penghinaan dan pelecehan di Komik Muhammad web site

Gara-gara banyak berita tentang penghinaan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka penulis penasaran untuk mengetahuinya; yaitu, kisah apa yang dijadikan sumber penghinaan.
Setelah ketemu sumbernya, yaitu sebuah situs komik Muhammad (maaf situsnya tersensor secara default), maka penulis tergoda untuk menyelidiki kebenaran sumber-sumbernya (tentu saja dari sumber yang dimiliki penulis ala kadarnya😛 ). Sebagai berikut:
Ternyata penyerangan pribadi Nabi oleh para orientalis sudah sejak dari dulu, dan materi penyerangannya ternyata cuma itu-itu saja, (mengulang penyakit yang sama..😛 ) .

Husein Haekal dalam buku sejarah Nabi Muhammad menulis;
“…(orientalis) melupakan bahwa buku-buku biografi yang pertama itu baru dua abad kemudian sesudah masa Muhammad ditulis orang, dengan menyelip-nyelipkan, -baik dalam sejarah atau dalam ajaran-ajarannya,- Israiliat (dongeng-dongeng Judaica) dan ribuan hadis-hadis palsu. Meskipun kaum Orientalis itu mengakui kenyataan ini, namun mereka tidak mau mengakui kelalaiannya sendiri untuk dapat menentukan sesuatu yang dianggapnya benar itu; padahal dengan sedikit penelitian saja sudah akan dapat ditolak. Di antaranya soal gharaniq misalnya, soal Zaid dan Zainab, soal perkawinan atau isteri-isteri Nabi, yang justru akan menjadi bahan pengujian dan penelitian dalam buku ini.”

KOMIK MUHAMMAD WEB SITE
Tampilan awal mengutip salah satu ayat Al-anfaal, ayat yang menceritakan tentang harta rampasan perang :
QS 8:12
Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yg telah beriman”.
Kelak aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka
PENGGALLAH KEPALA MEREKA dan PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA.”

Dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan, kepala terpenggal.

Seharusnya ayat ini masih bersambung dengan:
“… (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka MENENTANG Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka. (13-14)

Terjemahan DEPAG RI, dalam Pembukaannya tentang Surat ke-8 ini (Al Anfaal/ Harta Rampasan perang):
“…surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam. Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit…”

Menurut MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL dalam Sejarah Nabi Muhammad, hanya 2 (baca: dua) orang saja dari 50 (baca: lima puluh) tawanan Badar itu yang dibunuh oleh Muslimin, karena mereka selama tiga belas tahun memang begitu kejam terhadap kaum Muslimin, yang sampai menderita pelbagai macam siksaan selama di Mekah, sedangkan sisa tawanan yang lain bebas dengan tebusan dari keluarganya.

Perhatikan:
“..Hari itu yang datang adalah Mikraz b. Hafz, hendak menebus Suhail b. ‘Amr. Rupanya Umar bin’l-Khattab keberatan kalau orang itu bebas tanpa mendapat sesuatu gangguan. Maka lalu ia berkata:
“Rasulullah. Ijinkan saya mencabut dua gigi seri Suhail b. ‘Amr ini, supaya lidahnya menjulur keluar dan tidak lagi berpidato mencercamu di mana-mana.”

Tapi ini dijawab oleh Nabi dengan suatu jawaban yang sungguh agung:
“Aku tidak akan memperlakukannya secara kasar, supaya Tuhan tidak memperlakukan aku demikian, sekalipun aku seorang nabi.”

KOMIK MARIA
Maria (Mariah al Qibthiyah, Mary the Copt) di komik ini digambarkan sebagai budak yang bukan istri resmi Nabi. Riwayat-riwayat yang dicampur aduk, Ayat dan hadits di tata sedemikian rupa sehingga menjadi suatu komik porno, yang tentu saja dibuat untuk tujuan menghina (seperti biasa..)

QS: 33:59
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Shahih Bukhari Vol 8, book 74 No: 257:
Dikisahkan oleh ‘Aisyah:
Umar bin Khattab berkata kepada Rasullallah, “suruh istri-istrimu berkerudung.” Tapi sang Nabi tidak melakukan hal itu, Istri-istri sang Nabi terbiasa buang hajat di malam hari di satu tempat yang bernama al-Manasi’. suatu saat, Saodah,anak perempuan Sam’a, istri nabi yang kedua, pergi buang hajat. Dia adalah wanita yang tinggi besar. Umar bin Al Khattab melihatnya saat Saodah buang hajat dan berkata,”aku tahu itu engkau, Wahai Saodah!”

Cerita lengkapnya:
Shahih Bukhari Vol 8, book 74 No: 257:
Asking Permission
Narrated ‘Aisha:
(the wife of the Prophet) ‘Umar bin Al-Khattab used to say to Allah’s Apostle “Let your wives be veiled” But he did not do so. The wives of the Prophet used to go out to answer the call of nature at night only at Al-Manasi.’ Once Sauda, the daughter of Zam’a went out and she was a tall woman. ‘Umar bin Al-Khattab saw her while he was in a gathering, and said, “I have recognized you, O Sauda!” He (‘Umar) said so as he was anxious for some Divine orders regarding the veil (the veiling of women.) So Allah revealed the Verse of veiling. (Al-Hijab; a complete body cover excluding the eyes). (See Hadith No. 148, Vol. 1)

Volume 1, Book 4, Number 148:
Narrated ‘Aisha:
The wives of the Prophet used to go to Al-Manasi, a vast open place (near Baqia at Medina) to answer the call of nature at night. ‘Umar used to say to the Prophet “Let your wives be veiled,” but Allah’s Apostle did not do so. One night Sauda bint Zam’a the wife of the Prophet went out at ‘Isha’ time and she was a tall lady. ‘Umar addressed her and said, “I have recognized you, O Sauda.” He said so, as he desired eagerly that the verses of Al-Hijab (the observing of veils by the Muslim women) may be revealed. So Allah revealed the verses of “Al-Hijab” (A complete body cover excluding the eyes).

Shahih Bukhari Vol 1, book 8 No: 395:
Dikisahkan oleh Umar (bin al Khattab): Allah setuju denganku akan tiga hal dan Dia mewahyukan ayat-ayat tentang hal itu, satu diantaranya adalah ayat kerudung bagi wanita (Q 33:59)

Lengkapnya:
Volume 1, Book 8, Number 395:
Narrated ‘Umar (bin Al-Khattab):
My Lord agreed with me in three things:
1. I said,”O Allah’s Apostle, I wish we took the station of Abraham as our praying place (for some of our prayers). So came the Divine Inspiration: And take you (people) the station of Abraham as a place of prayer (for some of your prayers e.g. two Rakat of Tawaf of Ka’ba)”. (2.125)
2. And as regards the (verse of) the veiling of the women, I said, ‘O Allah’s Apostle! I wish you ordered your wives to cover themselves from the men because good and bad ones talk to them.’ So the verse of the veiling of the women was revealed.
3. Once the wives of the Prophet made a united front against the Prophet and I said to them, ‘It may be if he (the Prophet) divorced you, (all) that his Lord (Allah) will give him instead of you wives better than you.’ So this verse (the same as I had said) was revealed.” (66.5).

Q.S Al Ahzab
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk* dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya* dan ucapkanlah perkataan yang baik,
Keterangan *:
Tunduk:Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
Penyakit dalam hati: Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.

50. Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surat ini termasuk golongan surat-surat Madaniyah, diturunkan sesudah surat Ali’Imran.

Q.S At Tahrim
1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Keterangan:
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada Nabi.

2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu* dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Keterangan:
* Apabila seseorang bersumpah mengharamkan yang halal maka wajiblah atasnya membebaskan diri dari sumpahnya itu dengan membayar kaffarat, seperti tersebut dalam surat Al Maaidah ayat 89.

3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

5. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat* kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).”
Keterangan:
* Maksudnya: nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.

11. Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu* dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
Keterangan:
* Maksudnya: sebaliknya sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah.

Surat At Tahrim termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hujuraat.

Pembuat komik menukil 4:34 tidak berhubungan seks dengan istri sebagai hukuman.
Padahal isi lengkap ayatnya sebagai berikut:
34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Keterangan:
[289]. Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290]. Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291]. Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292]. Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Shahih Bukhari Vol 3, book 43 No: 648:
Sang Nabi tidak mengunjungi istri-istrinya karena Hafsa membocorkan rahasia kepada ‘Aisyah dan sang Nabi berkata bahwa dia tidak akan mengunjungi para istrinya selama sebulan karena dia marah pada mereka ketika Allah membatalkan sumpahnya untuk tidak menyentuh Maria lagi

Isi lengkapnya sebagai berikut:
Shahih Bukhari Vol 3, book 43 No: 648:
Oppressions
Narrated ‘Abdullah bin ‘Abbas:

I had been eager to ask ‘Umar about the two ladies from among the wives of the Prophet regarding whom Allah said (in the Qur’an saying): If you two (wives of the Prophet namely Aisha and Hafsa) turn in repentance to Allah your hearts are indeed so inclined (to oppose what the Prophet likes) (66.4), till performed the Hajj along with ‘Umar (and on our way back from Hajj) he went aside (to answer the call of nature) and I also went aside along with him carrying a tumbler of water. When he had answered the call of nature and returned. I poured water on his hands from the tumbler and he performed ablution. I said, “O Chief of the believers! ‘ Who were the two ladies from among the wives of the Prophet to whom Allah said:

‘If you two return in repentance (66.4)? He said, “I am astonished at your question, O Ibn ‘Abbas. They were Aisha and Hafsa.”

Then ‘Umar went on relating the narration and said. “I and an Ansari neighbor of mine from Bani Umaiya bin Zaid who used to live in ‘Awali Al-Medina, used to visit the Prophet in turns. He used to go one day, and I another day. When I went I would bring him the news of what had happened that day regarding the instructions and orders and when he went, he used to do the same for me. We, the people of Quraish, used to have authority over women, but when we came to live with the Ansar, we noticed that the Ansari women had the upper hand over their men, so our women started acquiring the habits of the Ansari women. Once I shouted at my wife and she paid me back in my coin and I disliked that she should answer me back. She said, ‘Why do you take it ill that I retort upon you? By Allah, the wives of the Prophet retort upon him, and some of them may not speak with him for the whole day till night.’ What she said scared me and I said to her, ‘Whoever amongst them does so, will be a great loser.’ Then I dressed myself and went to Hafsa and asked her, ‘Does any of you keep Allah’s Apostle angry all the day long till night?’ She replied in the affirmative. I said, ‘She is a ruined losing person (and will never have success)! Doesn’t she fear that Allah may get angry for the anger of Allah’s Apostle and thus she will be ruined? Don’t ask Allah’s Apostle too many things, and don’t retort upon him in any case, and don’t desert him. Demand from me whatever you like, and don’t be tempted to imitate your neighbor (i.e. ‘Aisha) in her behavior towards the Prophet), for she (i.e. Aisha) is more beautiful than you, and more beloved to Allah’s Apostle.

In those days it was rumored that Ghassan, (a tribe living in Sham) was getting prepared their horses to invade us. My companion went (to the Prophet on the day of his turn, went and returned to us at night and knocked at my door violently, asking whether I was sleeping. I was scared (by the hard knocking) and came out to him. He said that a great thing had happened. I asked him: What is it? Have Ghassan come? He replied that it was worse and more serious than that, and added that Allah’s Apostle had divorced all his wives. I said, Hafsa is a ruined loser! I expected that would happen some day.’ So I dressed myself and offered the Fajr prayer with the Prophet. Then the Prophet entered an upper room and stayed there alone. I went to Hafsa and found her weeping. I asked her, ‘Why are you weeping? Didn’t I warn you? Have Allah’s Apostle divorced you all?’ She replied, ‘I don’t know. He is there in the upper room.’ I then went out and came to the pulpit and found a group of people around it and some of them were weeping. Then I sat with them for some time, but could not endure the situation. So I went to the upper room where the Prophet was and requested to a black slave of his: “Will you get the permission of (Allah’s Apostle) for Umar (to enter)? The slave went in, talked to the Prophet about it and came out saying, ‘I mentioned you to him but he did not reply.’ So, I went and sat with the people who were sitting by the pulpit, but I could not bear the situation, so I went to the slave again and said: “Will you get he permission for Umar? He went in and brought the same reply as before. When I was leaving, behold, the slave called me saying, “Allah’s Apostle has granted you permission.” So, I entered upon the Prophet and saw him lying on a mat without wedding on it, and the mat had left its mark on the body of the Prophet, and he was leaning on a leather pillow stuffed with palm fires. I greeted him and while still standing, I said: “Have you divorced your wives?’ He raised his eyes to me and replied in the negative. And then while still standing, I said chatting: “Will you heed what I say, ‘O Allah’s Apostle! We, the people of Quraish used to have the upper hand over our women (wives), and when we came to the people whose women had the upper hand over them…”

‘Umar told the whole story (about his wife). “On that the Prophet smiled.” ‘Umar further said, “I then said, ‘I went to Hafsa and said to her: Do not be tempted to imitate your companion (‘Aisha) for she is more beautiful than you and more beloved to the Prophet.’ The Prophet smiled again. When I saw him smiling, I sat down and cast a glance at the room, and by Allah, I couldn’t see anything of importance but three hides. I said (to Allah’s Apostle) “Invoke Allah to make your followers prosperous for the Persians and the Byzantines have been made prosperous and given worldly luxuries, though they do not worship Allah?’ The Prophet was leaning then (and on hearing my speech he sat straight) and said, ‘O Ibn Al-Khatttab! Do you have any doubt (that the Hereafter is better than this world)? These people have been given rewards of their good deeds in this world only.’ I asked the Prophet . ‘Please ask Allah’s forgiveness for me. The Prophet did not go to his wives because of the secret which Hafsa had disclosed to ‘Aisha, and he said that he would not go to his wives for one month as he was angry with them when Allah admonished him (for his oath that he would not approach Maria).

When twenty-nine days had passed, the Prophet went to Aisha first of all. She said to him, ‘You took an oath that you would not come to us for one month, and today only twenty-nine days have passed, as I have been counting them day by day.’ The Prophet said, ‘The month is also of twenty-nine days.’ That month consisted of twenty-nine days. ‘Aisha said, ‘When the Divine revelation of Choice was revealed, the Prophet started with me, saying to me, ‘I am telling you something, but you needn’t hurry to give the reply till you can consult your parents.” ‘Aisha knew that her parents would not advise her to part with the Prophet . The Prophet said that Allah had said:–

‘O Prophet! Say To your wives; If you desire The life of this world And its glitter, … then come! I will make a provision for you and set you free In a handsome manner. But if you seek Allah And His Apostle, and The Home of the Hereafter, then Verily, Allah has prepared For the good-doers amongst you A great reward.’ (33.28) ‘Aisha said, ‘Am I to consult my parents about this? I indeed prefer Allah, His Apostle, and the Home of the Hereafter.’ After that the Prophet gave the choice to his other wives and they also gave the same reply as ‘Aisha did.”

Cerita sebenarnya:
Mary the Copt, d.637, concubine, in 628 she was a gift from Negus of Abbyssinia. She had son with Muhammad named Ibrahim; he died in 630.
(Sources: Nabia Abbott, Aishah, the Beloved of Mohammed. The History of al-Tabari, Vol. 33, Biographies of the Prophet s. Companions and their Successors, trans. Ella Landau Tasseron.)

Pada tahun ketujuh Hijriah, utusan Rasulullah ke Iskandariah-Mesir telah datang dengan membawa hadiah dua orang budak dari Mesir, yang pertama bernama Maria binti Syam’un (Maria al Qibthiyah) dan Sirin. Yang pertama dinikahi oleh Rasulullah dan yang kedua diberikan kepada Hassan bin Tsabit.
Rasulullah mengajarkan agar para budak dididik kemudian dibebaskan dan dinikahi. Maria al Qibthiah yang menjadi budak di Iskandariah, kini menjadi istri seorang pemimpin besar di tanah Hijaz. Ia bahkan telah memberikan keturunan yang diberi nama Rasulullah seperti nama kakeknya “Ibrahim”, walaupun tidak berusia panjang. Rasulullah menyatakan : “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya”.

Maria tempatnya tidak di samping mesjid seperti isteri-isteri Nabi Umm’l-Mukminin yang lain. i ditempatkan di ‘Alia, di bagian luar kota Medinah, di tempat yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur.

Mengenai sebab-sebab turunnya QS, at-Tahrim dalam literatur muslim ada dua pendapat:
Pendapat 1
Dibocorkannya rahasia Nabi oleh Hafsyah binti ‘Umar, sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan ad-Daruquthni dari Ibn ‘Abbas melalui sanad yang sahih. Di dalam hadits ini diceritakan bahwa Rasulullah menggauli Maria al-Qibthiah di rumah Hafshah, pada hari gilirannya dan di tempat tidurnya. Ketika Hafshah masuk ke rumahnya, ia menemukan Maria. Maka memuncaklah kemarahannya. Katanya: “Wahai Rasulullah, mengapa anda membawa dia ke rumahku, dan menggaulinya di tempat tidurku?” Lalu Nabi berkata untuk menyenangkan Hafshah: “Sungguh aku mengharamkannya atas diriku, tapi jangan engkau ceritakan hal ini kepada siapa pun”! Ketika Rasulullah saw pergi meninggalkan Hafshah, Hafshah pun pergi menemui ‘A’isyah dan menceritakan kepadanya tentang rahasia Nabi itu. Maka Nabi pun marah dan bersumpah tidak akan menggauli dan menjauhi istri-istrinya selama satu bulan. Kemudian turunlah ayat: Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah untukmu. Engkau mencari kerelaan istri-istrimu … (QS, at-Tahrim, 66:1.).

Pendapat ke-2 Kisah al-Maghafir
Iri hati di kalangan isteri-isteri Nabi karena Nabi cenderung sayang kepada Ibrahim (anak laiki-laki dari Maria Al Qibthiyah), sedang istri-istri yang lain tidak beroleh putera.
Terlebih lagi, para Wanita pasca kedatangan islam mempunyai tempat dan kedudukan lebih tinggi dibanding era jahiliyah.
Kemudian isteri-isteri Nabi saling mengadakan sepakat, bahwa bilamana Nabi s.a.w. datang kepada salah seorang dari istrinya hendaklah berkata bahwa “aku mencium bau maghafir. Apa kau makan maghafir?” [Maghafir ialah sesuatu yang manis rasanya, berbau tidak sedap. Sedang Nabi tidak menyukai segala yang berbau tidak enak]. Ketika ia mendatangi salah seorang dari mereka ini, ditanyakan kepadanya.

“Saya hanya minum madu di rumah Zainab bt. Jahsy, dan tidak akan saya ulang lagi,” katanya.

Menurut laporan Sauda, yang juga sudah mengadakan persepakatan yang serupa dengan Aisyah, menceritakan, bahwa setelah Nabi berada di dekatnya, ditanyanya: “Kau makan maghafir?”
“Tidak,” jawabnya.
“Ini bau apa?”
“Hafsha menyugui aku minuman dari madu.”
“Yang lebahnya mengisap ‘urfut?”

Dan bila ia mendatangi Aisyah dikatakannya seperti yang dikatakan oleh Sauda. Juga Shafia ketika dijumpainya mengatakan seperti apa yang dikatakan mereka juga. Sejak itu ia lalu mengharamkan madu untuk dirinya, sampai akhirnya muncul Surat At Tahrim sebagai teguran.

ZAINAB BINTI JAHSY
Kebencian klasik, tentang cerita bahwa tatkala Nabi memasuki rumah Zaid (budak yang telah dijadikan anak angkat oleh Nabi), ketika itu di dalam rumah hanya ada Zainab (istri Zaid) yang digambarkan sedang dalam posisi mengundang birahi, sehingga Nabi mulai tertarik dengan menantunya.

Ayat-ayat yang disertakan:
QS. 33. Al Ahzab
37. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia[1219] supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya[1220]. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
Keterangan:
[1219]. Maksudnya: setelah habis idahnya.
[1220]. Yang dimaksud dengan orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya ialah Zaid bin Haritsah. Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dengan memberi taufik masuk Islam. Nabi Muhammadpun telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakan kaumnya dan mengangkatnya menjadi anak. Ayat ini memberikan pengertian bahwa orang boleh mengawini bekas isteri anak angkatnya.

50. Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

53. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)[1228], tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
Keterangan:
[1228]. Maksudnya, pada masa Rasulullah s.a.w pernah terjadi orang-orang yang menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah s.a.w. lalu turun ayat ini melarang masuk rumah Rasulullah untuk makan sambil menunggu-nunggu waktu makannya Rasulullah.

Q.S 5: 101-102
101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
102. Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya[448].

[448]. Maksudnya: sesudah diterangkan kepada mereka hukum-hukum yang mereka tanyakan itu, mereka tidak menaatinya, hal ini menyebabkan mereka menjadi kafir.

Cerita sebenarnya:
Zainab bt. Jahsy adalah puteri Umaima bt. Abd’l-Muttalib, bibi Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan dengan bantuannya pula. Maka dengan demikian ia sudah seperti puterinya atau seperti adiknya sendiri. Ia sudah mengenal Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau tidak, sebelum ia dikawinkan dengan Zaid. Ia sudah melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang masih merangkak hingga menjelang gadis remaja dan dewasa, dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu. Sejarah mencatat bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak bibinya itu buat Zaid bekas budaknya. Abdullah b. Jahsy saudara Zainab menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari suku Quraisy dan keluarga Hasyim pula, di samping itu semua ia masih sepupu Rasul dari pihak ibu akan berada di bawah seorang budak belian yang dibeli oleh khadijah lalu dimerdekakan oleh Muhammad. Hal ini dianggap sebagai suatu aib besar buat Zainab. Dan memang benar sekali hal ini di kalangan Arab ketika itu merupakan suatu aib yang besar sekali. Memang tidak ada gadis-gadis kaum bangsawan yang terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang sudah dimerdekakan. Tetapi Muhammad justeru ingin menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih berkuasa dalam jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu. Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak lebih tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.

Genghis Khun

Pustaka:
1. Al Quran terjemah DEPAG
2. http://www.usc.edu/dept/msa/fundamentals/hadithsunnah
3. Sejarah Hidup Muhammad, media.isnet.org/islam/haekal/muhammad/isteri3.html
4. Irena Handono, Islam dihujat
5. Mahmud az-Za’by, Sunni yang Sunni, Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ah-nya al-Musawi


November 25, 2008 - Posted by | Agama |

1 Komentar »

  1. Surah No. 66, AT-TAHRIM
    Latar belakang Sura ini:
    Saat itu adalah giliran Hafsa untuk bersetubuh dengan sang Nabi. Budak Hafsa
    yang bernama Maria, orang Koptik Kristen pemberian dari Raja Alexandria, juga
    berada di kamarnya ketika sang Nabi masuk. Maria adalah gadis remaja yang
    cantik jelita, merangsang sukma. Dia membangkitkan nafsu berahi pria manapun
    yang melihatnya; apalagi pria seperti sang Nabi yang diberi kekuatan seks
    sebanyak 30 pria oleh Allah. Kalau tidak percaya, lihat hadisnya:
    Hadis Sahih Bukhari Volume 1, Book 5, Number 268:
    Dikisahkan oleh Qatada:
    Sang Nabi diberi kekuatan seksual setara dengan 30 pria.
    =========================
    Genghis Khun:
    Maria sebelumnya adalah budak, dibebaskan setelah menikah dengan nabi.

    Volume 1, Book 5, Number 268:
    Narrated Qatada:
    Anas bin Malik said, “The Prophet used to visit all his wives in a round, during the day and night and they were eleven in number.” I asked Anas, “Had the Prophet the strength for it?” Anas replied, “We used to say that the Prophet was given the strength of thirty (men).” And Sa’id said on the authority of Qatada that Anas had told him about nine wives only (not eleven).

    =====================
    Kalimat itu adalah pendapat pribadi Anas bin Malik.
    Bukan pendapat Rasul apalagi firman Allah.

    1. Pendapat sahabat bisa benar bisa juga salah.
    2. Ucapan nabi saja banyak yang dipalsukan apalagi ucapan sahabat.
    3. Seandainya pendapatnya benar, trus problemnya dimana? istri-istri beliau khan sudah sah dan halal?

    Terakhir, literatur cerita di atas diperoleh darimana?
    sebab maaf saja, tanpa literatur komentar anda tak lama akan saya hapus.
    seperti yang anda bisa lihat, artikel di atas ada 5 rujukan/ pustaka.

    Kasus ini (Muhammad dengan Maria) juga bisa disamakan dengan Ibrahim dengan Hagar. Silahkan buka Bible
    01O 16:
    1. Hata, maka Sarai, isteri Abram itu, tiada beranak; maka adalah padanya seorang sahaya perempuam Mesir,
    yang bernama Hagar.
    2. Maka kata Sarai kepada Abram: sesungguhnya Tuhan telah menahani adinda dari pada beranak; sebab itu
    hendaklah kiranya kakanda bersetubuh dengan sahaya adinda, kalau-kalau adinda beroleh anak dari padanya. Maka diluluskan Abram permintaan Sarai itu.
    …dst

    Jadi kalimat anda di atas berlaku pula untuk kasus Ibrahim-kah?
    Sadar Mas, ini penghinaan atas tiga agama besar lho; Islam, nasrani dan yahudi..
    Btw, email (boy@yahoo.com) dan websitenya (http://www.boy.com) palsu ya😉 semoga saja IP tidak palsu..

    Komentar oleh boy | November 28, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: