FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

Diskusi tentang GMT VS MMT (Makkah Mean Time)

Ada seorang pembaca blog tercinta ini yang juga bersemangat dengan ide MMT (Mecca Mean Time) dan tidak mengakui sistem GMT. Penulis sendiri (=Genghis Khun), sebagai orang yang anti kemapanan, dengan gembira segera menanggapinya. Mari kita simak diskusi via email (japri) antar Genghis Khun (warna hitam) dengan seseorang, kita sebut saja N, warna coklat miring.
Bagi anda yang malas untuk scrolling mouse karena panjangnya diskusi ke bawah maka telah dibuat subjudul untuk memudahkan.


Sub Judul:
N, Fri, Jan 16, 2009 at 5:01 AM
Genghis Khun, Fri, Jan 16, 2009 at 6:41 AM
N, Mon, Jan 19, 2009 at 1:38 AM
Genghis Khun, Mon, Jan 19, 2009 at 5:33 PM
N, Tue, Jan 20, 2009 at 3:45 AM
Genghis Khun, Fri, Jan 23, 2009 at 2:06 PM
N, Sat, Jan 24, 2009 at 1:00 AM
Genghis Khun, Sat, Jan 24, 2009 at 9:10 AM
N, Sun, Jan 25, 2009 at 3:52 AM
Genghis Khun, Sun, Jan 25, 2009 at 10:59 AM
N, Mon, Jan 26, 2009 at 1:21 AM
Genghis Khun, Mon, Jan 26, 2009 at 1:14 PM
N, Tue, Jan 27, 2009 at 1:22 AM
Genghis Khun, Tue, Jan 27, 2009 at 2:11 AM
N, Thu, Jan 29, 2009 at 1:51 AM
Genghis Khun, Jan 29, 2009 at 7:15 AM

====================================================

N:
N***** Fri, Jan 16, 2009 at 5:01 AM
To: nafanakhun@gmail.com

Assalamualaikum, salam kenal nama saya N***** tinggal di depok pekerjaan wiraswasta umur 34 tahun, udah lama saya cari orang yang concern ama masalah konsekwensi dari perubahan titik nol derajat GMT ke MMT, yaitu jelas HARI APA dan ADA DIMANA pasti berubah dong (logika sederhana saya, anda sependapat?). Masalah Hari siapa yang menentukan tidak menjadi masalah bagi saya apabila memang telah menjadi “kesepakatan bersama” (GMT) SELAMA hanya untuk mempermudah URUSAN2 DUNIAWI, tetapi yang menjadi masalah disini kita memiliki ibadah yang bergantung pada ketetepan hari yaitu sholat JUMAT, Logika penetapan GMT dulu membuat saya berpikir bahwa hari itu sebenarnya bersifat relatif, siapa saja bisa menetapkan titik nol dimana saja dan kapan saja, apakah Allah memerintahkan sholat pada hari yang kamu anggap jumat? saya rasa tidak.

So,………..oke sebenarnya gue lagi bener2 pusing nih ga tau mau nulis apa lagi , ……mmm…….mm ……..Teori2 yang mendukung Mekah (KA’BAH) sebagi titik nol sebenarnya sangat berpotensi menjadikan urusan waktu yang kacau karena GMT bisa menjadi ABSOLUT.

Oke, sebenarnya MY REAL PROBLEM IS : KAPANKAH HARI JUMAT DI DEPOK (INDONESIA)?????????????

Saya sangat berharap kita bisa terus contact karena bisa dibilang untuk mikirin masalah ini I’M ALONE, saya sudah banyak sounding kemana-mana termasuk yang kata orang Ulama tapi ga pernah ada masukan yang mencerahkan.

Ok gitu aj dulu, nomor HP saya ####-######, saya jarang online saya sih berharap kita bisa ketemuan biar bisa lebih intens ngebahasnya.

THNKS for your Attention

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Fri, Jan 16, 2009 at 6:41 AM
To: N*****

Wa alaikum salam wr. wb.
saya pumya tulisan untuk membahas ini beserta solusinya. baca di:
http://genghiskhun.com/2008/05/17/garis-batas-hari-internasional-validitas-gmt-bag-2/

trims

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Mon, Jan 19, 2009 at 1:38 AM
To: nafan akhun

“Yang paling parah adalah, bila Mekkah dinyatakan sebagai permulaan hari. Urutan HARI di Indonesia harus dimundurkan satu hari, artinya selama ini penduduk Indonesia sejak jaman Majapahit sampai sekarang telah melakukan shalat Jum’at pada hari SABTU!”

Koreksi : Bukannya hari kamis pak?, kalau kita asumsikan IDL ada di Mekkah?, JUMAT(GMT)=SABTU(MMT) bukan begitu? indonesia kan jadi -/+ beda 19 jam lebih lambat dari mekkah???

kalau anda sendiri gimana? pake patokan apa sholat jumatnya?

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Mon, Jan 19, 2009 at 5:33 PM
To: N*****

Oiya Maaf, trims atas koreksinya. artikel sudah di ralat.
Kalau saya memakai patokan:
1. Petunjuk hari yang sama= QS al Kahfi ayat 83-98.
2. Ketika Matahari di atas bujur yang segaris dengan Ka’bah, semua hari adalah sama. Artinya IDL-nya diperbatasan Alaska-Kanada
Wallahu a’lam

Kalau anda sendiri bagaimana pak?

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Tue, Jan 20, 2009 at 3:45 AM
To: nafan akhun

saya dianggap “gila” ama orang-orang, karena katanya mikirin yang enggak-enggak, well…thats ok.
Saya penasaran anda mikirin beginian gimana sejarahnya, kalau saya sih dari buku yang judulnya KUT (kabah Universal Time)penulisnya orang bogor, namanya lupa ntar deh saya scan gambar sampulnya.

Kalau “patokan” saya sih simpel Hari SABTU sistem GMT (yang kita pake sekarang ini), ya jadi hari JUMAT kalo pake sistem MMT, sama gak hasil “konversimya” dengan patokan ente?
Jadi yang dipikirin orang-orang adalah saya mempropagandakan sholat jumat hari sabtu!!!!!

So,…….what da ya think?

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Fri, Jan 23, 2009 at 2:06 PM
To: N*****

Itu sebenarnya artikel lama yang ditulis tg 25 Agustus 2007 di Friendster, gara-gara ada pertanyaan lugu seorang teman yg gundah terhadap perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan mengirim SMS ke saya, kalau tidak salah:
Apa perlu muslim membuat IDL sendiri ya agar tidak perlu ada perbedaan lagi?

Baca di http://nafanakhun.blog.friendster.com/2007/08/garis-batas-hari-internasional-validitas-gmt-sekaligus-jawaban-buat-dr-ramadhan-deden/

Saya tidak tahu ada buku KUT. Boleh tahu terbit tahun berapa?

Kalau usulan saya IDL-nya hanya di geser ke perbatasan Alaska (+/- 180 derajat dari Bujur Mekkah).
Anda bisa juga berpropaganda sholat jum’at pada hari sabtu ( saya juga setuju anti kemapanan🙂 ), tetapi juga harus mengemukakan IDL-nya?
Batas mana dimulainya jumat?

Apakah IDL anda seperti artikel saya yang di: http://genghiskhun.com/?p=52
?

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Sat, Jan 24, 2009 at 1:00 AM
To: nafan akhun

IDL-nya ya ada di kabah juga, jadi bumi kagak perlu dibagi 2 kayak GMT, karena dasar ilmiah dan logikanya ga ada kan?.. ada 2 garis satu titik nol satu lagi IDL, cukup satu aja yang jadi patokan awal hari! itu yang penting

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Sat, Jan 24, 2009 at 9:10 AM
To: N*****

Saya bisa terima maksudnya, tapi kelihatannya masih terlalu sederhana. Dimana batas yang anda harapkan itu?
1. Membelah Ka’bah ataukah Persis sebelah timur Ka’bah (Shafa-Marwa, Masjidil Haram)?
Bila nomer 1 atau 2 akan mengacaukan ritual Haji karena Mina masih disebelah timurnya lagi (berbeda hari). Ataukah
2. Sebelah timur ritual2 haji? yaitu sebelah timur Mina? ataukah
3. Batas timur daerah kekuasaan muslim era Nabi/ Khulafaur Rasyidin?
Anda pasti sudah punya rancangan Date Line tersebut khan?

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Sun, Jan 25, 2009 at 3:52 AM
To: nafan akhun

7,5 derajat sebelah timur dan barat kabah dibuat sebagai waktu pangkal, jadi waktu yang meliputi region tersebut sama,…..so what da ya think????,…………..I’m as confuse as you are

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Sun, Jan 25, 2009 at 10:59 AM
To: N*****

1. Bisa minta gambar rancangan IDL anda?

2. Kenapa 7,5 derajat sebelah timur?
GMT menyederhanakan bola bumi dibagi 24 jam, sehingga setiap 15 derajat perbedaan waktunya 1 jam. Padahal kalau mau akurat seharusnya di bagi 1440 menit. Jadi setiap 1 derajat perbedaan waktunya 4 menit.
Untuk hal ini, saya lebih cenderung 0,5 derajat timur dan barat= 30 mil Nautica= 55,56 Km ( 1 Mil Nautika= 1852 m)
====

Pendapat saya IDL TIDAK BOLEH melewati daratan karena bisa terjadi kekacauan dan kebingungan. Kita misalkan IDL ini membelah Depok persis di Jl. Margonda.
1. Masjid UI sudah jumat-> Masjid di Cimanggis masih kamis, ini tidak masalah. Masalahnya adalah bila garis ini melewati pertengahan sebuah masjid Jakarta selatan.
Masjid ini masuk area hari yang mana? pasti akan ada pro-kontra dan bentrok antar pendukung. sebagai kompromi bisa dipastikan masjid ini akan melaksanakan shalat jumat dua kali, hari ini bagi ‘kelompok barat’ dan besok bagi ‘kelompok timur’

2. MASA LIBUR UNTUK KELUARGA
Misalnya anda bekerja di Cimanggis dengan hari kerja senin-sabtu. sedangkan istri bekerja di Ciputat dengan hari kerja yang sama. Hari libur suami istri akan berbeda akibatnya tidak pernah ada satu hari sebagai hari berkumpul bersama keluarga.

3. IDL sesuai batas negara?
Boleh saja, silahkan digambarkan dulu rancangannya.

Sekali lagi saya minta rancangan IDL anda (pasti sudah ada khan?)

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Mon, Jan 26, 2009 at 1:21 AM
To: nafan akhun

IDL ga boleh di darat????, well….emang kalo di laut ga bisa bikn “kacau”????

OK DEH BACA INI AJA DEH DULU :

Argumen Waktu Kaabah

Umat Islam sebenarnya sudah memiliki sistim tata waktu sendiri, yakni almanak Qammariyah-syamsiyah (lunar & solar system). Tapi justru banyak dilupakan oleh umatnya sendiri. Karena memang ilmu falak (sub geo astronomi). tidak begitu diminati.

Tata waktu syamsyiah (daily solar system), dimana rotasi bumi +/-24jam sehari, dan bumi mengelilingi matahari 365 hari. Tepatnya 365 hari 5jam 8 menit 48 detik. Sedangkan untuk almanak Qammariyah (lunar time system), dimana bulan mengelilingi bumi dengan menempuh waktu 29hari 12jam 44 menit 0.3 detik.
Pergantian hari untuk almanak syamsyiyah adalah pada tengah malam jam 00:00,
Sedangkan pertukaran hari pada almanak Qammariyah adalah pada petang hari. Sedang pergantian bulan ditandai dengan moon crescent (bulat sabit) yang tampak di ufuk barat. Sistem almanak hijriah ditetapkan oleh khalifah Umar ibn Khatab ra, pada 637 Masehi.

Kalau kita mengamati seluruh benda langit dalam konstelasi alam raya, ternyata tidak ada satupun benda langit yang bergerak dari arah kiri ke kanan seperti arah jam-jam yang kita pakai. Tetapi sebaliknya semua benda langit bergerak dari kanan ke kiri berlawanan dengan arah jarum jam.
Sedankan di alam mikro, semua lintasan seperti Thawaf, atletik, balap sepeda, balap mobil bergerak dari kanan ke kiri (“dilihat dari atas). Inilah yang kita sebut dengan “jam fitrah” .

Dalam urusan syariah, ibadah thawaf arah putarannya adalah ke kiri. dan sunah Rasul menyebutkan mendahulukan yang kanan. Tangan kanan menjadi simbol kebaikan. begitu juga untuk “urusan dalam” di dalam toilet.
Dalam melaksanakan ibadah Maddah, disebut pada QS al Hujurat 49:1

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Maka jika kita beribadah mendahului waktu ka’bah (bait Allah) maka ibadahnya menjadi mubah.

Sejak kapan dunia “terbelah dua” ?
Sistim tata waktu Masehi yang kita pakai sekarang (kalender Gregorian), berkembang dan menetapkan garis tanggal international sebagai awal hari harus dimulai dari meridian 180 derajat Greenwich pada jam 00:00 tengah malam. Stanford Fleming (Canada) dan Charles F Dowd (Amerika) memperkenalkan sistem tata waktu GMT (Greenwich Mean Time) tahun 1883. Bumi dibelah menjadi dua bagian yakni meridian bujur timur dan meridian bujur barat. Dan Meridian 0 derajat diletakkan di Greenwich. Sejak saat itu dunia terbelah menjadi dua. Bujur timur melintasi Eropa, Asia, Australia sampai selat Bosporus. Sedangkan meridian barat melintasi atlantik, benua Amerika sampai selat Bosporus.

Mekkah berdasarkan pembagian meridian, terletak pada 40 derajat bujur timur. dan Indonesia terbentang dari 91 – 145 derajat bujur timur. Dan Jakarta pada posisi 106 derajat BT.

Nah apa yang terjadi ? Selisih waktu antara Jakarta dengan Mekkah/Baitullah adalah 4 jam lebih awal (mendahulu).
Jika di Jakarta jam 17:00 (ashr),
maka di Mekkah baru jam 13:00 (zuhur).

Dengan kata lain kita yg ada di Jakarta MENDAHULUI Shalat Ashar. Jika kita mengacu pada QS49:1 “Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu mendahului Allah maupun Rasul-NYA….dst”. Maka jika kita beribadah mendahului waktu ka’bah (bait Allah) maka ibadahnya menjadi mubah. Pertanyaannya apakah ini kita sadari?

Meski tata waktu GMT memenuhi persyaratan ilmiah, akan tetapi membuat ibadah kita menjadi mubah, karena kita tidak menggunakan/meninggalkan sistem tata waktu yang kita miliki sendiri.

Tetapi kata “sa’ah” yang didahului oleh dengan “harf” hanya terdapat 24 tempat dalam 20 ayat yakni. Qs7:187, Qs9:117, Qs20:45, Qs15:85, Qs18:21, Qs19:75 dst…. Kata Sa’ah (baca:saat), yang berarti waktu pada al Qur’an ada 48 tempat.
Dari uraian tersebut diyakini pembagian jam dalam sehari adalah 24 sa’ah (jam). Adapun kata Syahr (baca: syharul (bulan) ditemukan sebanyak 12. Dalam artian secara explisit bahwa jumlah bulan kalender adalah 12 bulan.
Kemudian bagaimana dengan jumlah hari dalam satu minggu? dalam al Qur’an ada kata “sab’u” yg berkaitan dengan kata “samawat” terdapat 7 tempat. Sehingga jelas disini bahwa Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada orang2 beriman dalam hal membagi sistem waktu guna memudahkan setiap tindakan.

Ka’bah Universial Time Cordination.
Dalam konsep ini, posisi Ka’bah (kota Mekkah). Yang terletak pada meridian 40 derajat bujur timur, di tetapkan sebagai Meridian 0 derajat KUT. dan bola bumi tidak dibelah menjadi dua, tetapi hanya ada satu lintasan BK (bujur ka’bah).
Oleh karena arah rotasi bumi dari barat ke timur, maka “pergerakan nisbi” matahari jika dilihat darii bumi adalah dari timur ke barat.

Garis meridian No; Ka’bah ditetapkan sebagai garis pangkal bagi penentuan arah timur atau barat. (masyriki wal magribi).

Untuk menghindari anggapan trasformasi linear, dan juga dalam melaksanakan ibadah maddah tidak mendahului waktu di BaitAllah, maka meriadian garis bujur bergerak ke arah barat mlewati eropa, afrika, menyeberang samudra atlantk, benua amerika, australia, asia dan kembali BaitAllah.

Dengan sistim bujur kabah (BK), dbagi selissi waktu 1 jam dalam setiap 15 derajat BK. Karena sistim almanak Islam mengikuti calender Qammariyah, maka penggantian hari tidak dilakukan pada tengah malam. Tetapi dilakukan pada petang hari.

Wilayah waktu awal ditetapkan selebar 15 derajat dengan titik pusat di Ka’bah hingga 7,5 kearah timur dan 7,5 ke arah barat. Dengan konidis seperti ini, maka waktu awal akan terbentang melputi seluruh wilayah tanah arab dari Jerusalem sebelah barat, sampai Yaman disebelah timur. Waktu Awal meliputi seluruh tanah suci (jerusalem) maupun tanah Haram Mekkah al Mukaromah.
Jadi kordinat meridian waktu pangkal sebut saja waktu Ka’bah 352,5 derajat BK ~ 7,25BK dengan center 0 derajat di Ka’bah.

Jika umat Islam (khususnya di Indonesia), menerapkan sistim tata waktu Ka’bah Universal Time Cordination). Maka diyakini dan dipastikan tidak satupun umat muslim melaksanakan ibadah Maddah, medahului waktu BaitAllah. Dan ibadahnya menjadi halal dalam artian tidak mubah. Mengapa umat muslim (khususnya) yang berada di Indonesia melaksanakan ibadah (shalat) mendahului waktu Ka’bah ?

Jika di Mekkah jam 13:00 waktu Arab Saudi, di Jakarta jam 17:00 WIB pada hari yang sama. Maka Jelas sekali umat muslim Indonesia sudah melaksanakan shalat Ashar. Sedangkan umat muslim di Mekkah baru saja selesai shalat Dzuhur atau shalat Jum’at.

Jelas terlihat disini bahwa umat muslim di Jakarta mendahului shalat ashar di hari yang sama. Dan ini bertentangan dengan QS:49:1 Surat al Hujurat. “Yaa ay-yuhal ladziina aamanu laa tuqaddimmu bainaayadayillahi wa rosuulihi wattaqullaha, innAllaha sami’un alim”

(Hai orang yg beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha mengetahui.

Indonesia secara geografis terbentng dari 950~ 141 derajat BT (sabang ~ merauke), menurut pembagian meridian yg digagas oleh Stanford Fleming dan Charles F Dowd pad tahun 1883. Tetapi menurut KUT meridan letak Indonesia adalah 305 ~ 259 derajat BK(bujur Ka’bah). Kota Jakarta yg terletak pada 106o BT, menurut KUT adalah 294 derajat BK.

Dalam hal ini berarti Jakarta (Indonesia) berada dibelakang meridian Ka’bah. Tepatnya -21 jam. Jika di Mekkah tanggal 24 April 2008, jam 13:00 WSA, maka di Jakarta Masih tanggal 23 April 2008 jam 17:00 WIB (tertinggal 21 jam). Dari sini jelas nampak bahwa umat muslim di Mekkah sudah tuntas melaksanakan shalat ashar tanggal 23 April 2008, shalat magrib, isya dan subuh tanggal 24 April 2008. Sedangkan umat muslim di Jakarta baru saja shalat ashar tanggal 23 April 2008. Dengan demikian Shalat yg dilakukan umat muslim di Jakarta tidak mendahului waktu shalat ka’bah.

Harap dicermati perjelasan diatas dengan cermat dan hati2. Sampai benar2 paham maksudnya. Mohon teman2 tidak bingung karena selama ini kita terbiasa memakai transformasi linear atas perbedaan waktu.

Penanggalan Islam yg menganut lunar system (qomariyah), adalah waktu yg diperlukan bulan mengitari bumi dalam satu lingkaran penuh adalah 29.5 hari (tepatnya 29,530579hari). Atau 29 hari 12 jam 44 menit 0.3 detik. Sebenarnya waktu yg diperlukan untuk menempuh lngkaran 360 derajat emngitari bumi adalah 27,32 hari. Mengapa demikian. Hal ini terjadi karena pengamatanya dilakukan dengan menandai dari buan purnama ke purnama berikutnya dari bumi.

Dalam kenyataan fisik satu lingkaran penuh orbit bulan terhadap bumi adalah 27.32 hari. Tetapi pada saat tersebut ternyata bulan belum nampak purnama penuh. Untuk dapat melihat purnama penuh di butuhkan aktu selama 2.210579 hari lagi, sehingga orbit bulan setelah menempuh 387 derajat atau 29,530579 hari barulah purnama penuh terlhat di bumi. Hal ini karena hukum pembiasan cahaya (hukum schnellius).

Adapun satu tahun Qomariyah terbagi dalam 12 bulan, agar jumlah rata-rata 29.5 hari, maka setiap bulan ditetapkan selang seling 29 dan 30 hari. Sehingga dalam satu tahun qomariah terdapat 354 hari.

Hal ini pun masih terdapat kekurangan 0.030579 hari perbulan. Untuk menutup kekuarangan dan mendapatkan akurasi yang tepat, maka setiap 11 tahun dilakukan penambahan 1 hari di bulan Zulhijah (bulan besar bulan haji).
Mengingat pengamatan purnama penuh sebagai tanda awal awal bulan sangat sulit dilakukan, Maka awal bulan / bulan baru ditentukan dengan munculnya hilal (bulan sabit).

Adjustment penambahan 1 hari setiap 11 tahun sekali di bulan Zulhijah inilah, yang sampai sekarang menjadi polemik yg tak terpecahkan dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi jika para ulama memahami KUTC (Ka’bah Universal Time Conrdination), dan tidak “perang” dalil terhadap apa yg bisa diamati oleh mata / alat bantu teropong.

Kelemahan dalam sistim kalender Qomariah, adalah sulit untuk menentukan khot- ul Qibla. Yakni menetukan arah pasti Qiblat secara akurat. Karena Khot-ul qibla di sistim kalender Qomariah tidak jatuh pada hari yang sama di setiap tahunya.
Arah pasti qiblat bisa ditentukan secara pasti dengan menggunakan kalender Gregorian atau populer disebut kalender Masehi. Karena khot-ul qibla jatuh pada hari dan jam yang sama setiap tahunnya.

Apakah Khot-ul qibla. Phenomena khot-ul qibla adalah saat terjadi panjang hari dan panjang malang tepat di atas Ka’bah (kota Mekkah). Dimana tepat pada jam 12:00 WSA, posisi matahari tepat 90 derajat di atas Ka’bah. Sehingga Ka’bah tidak ada bayanganya.

Ditempat lain, seluruh bayangan sinar matahari agar tepat satu garis dengan arah Ka’bah. Maka pada saat itulah kita dapat melakukan adjustment arah kiblat yang pasti dan akurat

Ibadah shalat dan puasa adalah ibadah yang sangat terkait pelaksanaannya dengan waktu. Sehingga bila dilakukan bukan pada waktu yang telah ditetapkan, ibadah itu menjadi tidak sempurna, bahkan bisa menjadi tidak syah. Waktu-waktu shalat dan puasa telah ditentukan secara detail dalam syariat Islam. Dan setiap orang dimana pun berada terikat dengan waktu dimana dia berada.

Waktu Shalat Subuh
Shalat Shubuh itu dimulai ketika munculnya syafaqul ahmar, yaitu mega yang berwarna merah di ufuk timur. Mega ini muncul jauh sebelum terbitnya matahari, yang menjadi batas berakhirnya waktu shubuh. Di dalam rentang waktu antara mega merah dan terbitnya matahari inilah shalat shubuh dilakukan. Keluar dari waktunya secara sengaja, tentu tidak bisa diterima shalatnya. Kecuali bila dalam kasus tertentu seperti orang yang bangun kesiangan.

Waktu Puasa
Demikian juga waktu untuk mulai dan berbuka puasa, sudah ditetapkan secara baku. Mulai dari masuknya waktu shubuh dan berakhir dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Dalam rentang waktu itulah puasa dilakukan.

Perbedaan Jam Di Musim Dingin Dan Musim Panas
Adanya pergerakan matahari dalam setahun dari lintang utara ke selatan dan kembali lagi ke utara menghasilkan efek perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari pada wilayah sub tropis. Bahkan di wilayah kutub, perbedaan ini bisa menjadi sangat ekstrim.
Namun setiap muslim tetap terikat dengan ketentuan waktu yang telah ditetapkan berdasarkan peredaran matahari (terbit dan terbenamnya). Meski pun terjadi perbedaan panjang antara malam dan siang. Dimana pun seseorang berada di muka bumi ini, maka dia harus mengikuti jadwal ibadah shalat dan puasa sesuai dengan gejala peredaran matahari ini, meski pun setiap saat bisa berubah-ubah.

Barangkali pada musim panas, lamanya siang akan menjadi sangat panjang, karena bisa saja jam 03.00 pagi matahari sudah terbit. Dan baru terbenam jam 21.00 malam harinya. Sebaliknya, di musim dingin justru matahari terlambat sekali terbit, misalnya pada jam 08.00 dan sudah terbenam pada jam 16.00 sore harinya. Tetapi selama perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari masih jelas terjadi dalam setiap harinya, jadwal shalat dan puasa tetap harus mengacu kepada peredaran matahari.

Kecuali untuk wilayah yang terlalu ekstrim, dimana matahari tidak terbit selama 6 bulan atau sebaliknya. Atau batas antara terbenam dan terbitnya matahari sangat singkat dan tidak sampai hilang mega merahnya, sehingga tidak bisa dipastikan kapankan masuk waktu Isya dna kapankah masuk waktu shubuh. Dalam kasus ini, para ulama dalam Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami dan Hai`ah Kibaril Ulama telah menetapkan fatwa antara lain :

Pertama : Wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari. Dalam kondisi ini, masalah jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya dimana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.

Kedua : wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh. Dalam kondisi ini, maka yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat ‘isya’nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib. Begitu juga waktu untuk imsak puasa (mulai start puasa), disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu.

Ketiga : Wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya. Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. “

Dalilnya adalah apa yang telah Allah SWT frimankan di dalam Al-Quran :

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah :
187).

Sangatlah perlu bagi kita semua, khususnya bagi para ulama untuk “KEMBALI” kepada sistim tata waktu kalender Islam (ka’bah universal time cordination) yg selama ini terkesan di tinggalkan. Maka “perang” dalil dalam menentukan hari istimewa 1 Ramadhan, 1 Syawal tidak tidak akan terjadi lagi
Penentuan hari pertama puasa Ramadhan dan hari Idul Fitri setiap tahun menjadi condition stimulant di negeri Indonesia khususnya. Selalu diramaikan dengan silang pendapat dari dua kubu organisasi Islam. Dan kita terperosok pada konsep “amalku adalah amalku, amalmu adalah amalmu” sebagai implementasi “lakum dinukum walyadiin”, Ini bentuk semu menghargai pendapat orang lain sehingga terkesan bahwa umat Islam kelhatan rukun (ukhuwah). Tetapi ini adalah ukhuwah semu. Disisi lain silang pendapat dalam menentukan hari2 besar Islam (puasa dan lebaran) yg terjadi di setiap tahun justru mempertonton kebodohan umat muslim secara vulgar.
Merujuk pada hadist :”Perselisihan pendapat diantara umatku merupakan suatu rahmat”, untuk menghalalkan perbedaan pandang soal penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di Indonesia, sama sekali tidak memiliki dasar yg kuat, karena terbelenggu pada unsur dogmatik primordialis turun menurun. Pada hal untuk menetapkan hari2 tsb sudah memiliki dasar ilmu falaq (geo Astronomi) yang baku dan sangat jelas. Yakni sistim tata waktu Islam (lunar and solar system calendar).

Dalam konvensi Istambul yg di h adiri oleh negera2 Islam, termasuk Indonesia, konvensi ini mengamanahkan bahwa:”Apibila bulan sabit atau hilal sudah nampak di suatu negeri, berarti semua negeri sudah melihatnya”. Konvensi Istambul juga memberi mandat kepada Kerajaan Saudia Arabia sebagai pelayan tanah suci dan pemelihara Ka’bah, sebagai tempat standart untuk melihat hilal dan kemudian menyebarkan informasi keseluruh dunia. Masalahnya Hilal hanya bisa dilhat sempurna hanya di satu titik dibelahan dunia. Oleh karena itu tidak selalu hilal bisa dilihat dari Arab Saudi. Maka berdasarkan konsvensi Istambul, Negeri2 yg telah melihat hilal wajib melaporkan ke pemerintah Arab Saudia, dan kemudian informasi tsb disebar luaskan keseluruh dunia oleh pemerintah Arab Saudi.

Ketidakpatuhan umat muslim (khusus ulama Indonesia) pada konvensi Istambul inilah yg menyebabkan penentuan hari-hari besar Islam selalu terjadi perbedaan dan silang pendapat. Dan ketidakpatuhan terhadap konsvensi Istambul dipaksa halal oleh ulama dengan aneka Dalil dan hadist.

Hukum dan syarat dalam menjalankan ibadah, terutama ibadah puasa adalah baku. Dan hukum ini adalah al Haq / absolut (kebenaran sejati). Berlaku dimana saja kecuali diderah ektrim dimana matahari hanya terbit 6 bulan sekali (kutub utara/kutub selatan) Yang menjadi pangkal masalah adalah “jatuh tempo” awal dan akhir yg ditafsir berbeda atas substansi hadirnya bulan sabit. Padahal yg diamati adalah satu benda langit yg sama.

Pada konsep KUTC, pelaksanaan ibadah maddah, tidak mengalami perubahan akibat fisik lintasan matahari. Akan tetapi mindset kita perlu attunement untuk tidak mendahului waktu ka’bah. Ddengan meyakini bahwa kita yg berada di Jakarta adalah 21 Jam dibelakang waktu Ka’bah.

Khusus untuk penentuan awal Puasa Ramadhan dan atau penentuan hari lebaran 1 Syawal merupakan titik kritis. Yang harus mendapat perhatian serius pada Umat Pada Lebaran tahun lalu, jelas dilaksanakan pada hari yg beda. Kelompok ormas tertentu. ada yg melaksanakan shalat Ied lebih awal satu hari dari tanggal Hisab di Kalender. Lalu apa yng terjadi, baru kemudian esok siangnya kita menyaksikan Shalat Ied di Mekkah lewat TV pada jam 11:00 di Jakarta. Jadi jelas ormas2 tsb mendahului shalat Ied lebih awal 1 hari. Sedangkan untuk shalat ied di hari yg sama dengan waktu ka’bah saja tidak bisa dikatakan afdol, karena masih mendahului waktu ka’bah sebanyak 4 jam (di Jakarta).

Perselisihan pendapat terjadi dari tahun ketahun soal awal ramdhan dan 1 syawal. Tetapi kita tidak pernah melihat perbedaan pendapat pada Hari Idul Adha. Lalu apa yang mendasari beda pendapat tersebut ? Hari nahar (qurban) merupakan satu proses ibadah haji. Dimana penentuan hari wukuf ditetapkan hanya oleh pemerintah Arab Saudi. Dengan menghitung hari wukuf terjadi beberapa hari setelah hilal bulan Zulhijah muncul. Ingat bulan Zulhijah setiap 11 tahun sekali ditambah 1 hari. Karena Hillal tidak selalu bisa terlihat dari Tanah Haram Makkah AlMuquromah, maka pemerintah arab saudi mendapat informasi pengamatan hilal dari seluruh dunia. Inilah kepatuhan ulama kerajaan Arab Saudi terhadap Konvensi Istambil.

Yang menjadi pertanyaan mengapa ulama negeri tercinta ini mengabaikan Konvensi Istambul dan meninggalkan Ka’bah universal time cordination ? Sehingga setiap tahun kita ribut soal awal puasa dan waktu shalat ied el fitr.

DR, Monzur Ahmed dengan sofware MoonCalc versi 6. Menyajikan perhitungan (hisab) penampakan Hilal dengan memakai konsep International lunar data line-ILDL, yg diperkenalkan oleh Prof.Dr Mohammed Ilyas pakar astronomi, berupa garis lengkung parabola tidur dengan puncak parabola mengarah ke timur. Dan secara pasti program ini di adopsi oleh NASA Geoastromi untuk mengamati seluruh peristiwa astronomi seperti gerhana matahari / bulan kapan akan terjadi dengan akurasi 0,8 detik. Deviasi 0.8 terjadi karena paralax pembiasan cahaya.
MoonCalc memberikan Hisab atas data waktu Hilal (bulan sabit) muncul dan area wilayah mana saja dibelahan dunia yg dapat melihat hilal (bulan sabit) dengan sempurna.

Dalam artian Hisab telah dilakukan, dan Ruqyat (pengamatan fisik) yang memastikan. Meski kita telah kembali menggunakan Ka’bah universal time cordination (kutc), yg berbasis pada kalender qomariyah – syamsiiya, yg populer diesebut kalender jawa/islam, Kita tetap tidak boleh meninggalkan sistim kalendar Gregorian (kalender masehi). Karena ke dua sistem kalender adalah asset dunia.
Jumlah hari dalam satu tahun berbeda 11 ari dimana kalender Islam lebih sedikti harinya (354 hari), maka Hari-hari besar Islam tidak jatuh pada hari yg sama pada kalender Gregorian.

Dalam sistim kalender manapun dikenal dengan tahun kabisat (long year). Tujuan adanya tahun kabisat adalah untuk melakukan koreksi agar tanggal hari memilki akurasi sepanjang masa.
Dalam kalender Jawa/Islam, tahun kabisat terjadi setiap 11 tahun sekali. Yaitu dengan menambahkan 1 hari pada bulan Dzulhijah. Berbeda dengan kalender Gregorian dimana tahun kabisat dengan memnempatkan bulan Februari sebanyak 29 hari.
Namun demikian kalender Gregorian jumlah hari dalam 1 tahun tidak tepat 365 Hari. Tepatnya 365,242217 Hari. Seingga memerlukan Koreksi pada 4 tahun sekali pada bulan februari dan setiap tahun kelipatan 100. Misalnya tahun 2100 yg akan datang, tidak akan disebut tahun Kabisat. Meski angka tahn habis dibagi 4. Tetapi tidak habis dibagi 400. Bisa ada cek di kalender abadi bahwa tahun 1700, 1800, 1900 dan 2100 tidak katakan sebagai tahun kabisat.

Akurasi kalender Jawa/Islam terjadi sepanjang zaman, karena koreksi dilakukan dalam jangka yang pendek yakni setiap 11 tahun sekali. Berbeda dengan kalender Gregorian, sepintas terlihat akurat. Namun pada tahun 3323 Masehi yg akan datang akan terjadi selisih 1 hari (data dari badan Hisab Dep. Agama RI). Jelasnya anak cucu cicit kita akan mengalami koreksi tanggal di tahun 3323 Masehi. Dimana kemungkinan yg paling mudah diperkirakan adalah tidak ada tanggal 31 Des 3323, Dalam arti setelah 30 Desember 3323 akan Jump ke tahun baru1 Januari 3324.

Namun Demikian Feature akurasi kalender Gregorian dapat umat muslim manfaatkan untuk melakukan Bearing arah ka’bah dengan akurat. Peristiwa ini disebut dengan Khat-ul Qibla, yang terjadi hanya dua kali dalam setahun Masehi, Yakni pada tanggal 28 Mei dan 15 Juli. Dimana posisi matahari tepat pada kordinat 40 derajat BT dan 21 derajat LU. (greenwich). Kordinat tsb adalah posisi kota Makkah. Dengan kata lain panjang siang dan malam di kota Makkah adalah sama persis,.

Pada saat jam 12:00 WSA, Matahari tepat 90 derajat diatas kota Makkah (Ka.bah). Sehingg Ka’bah pada saat itu tidak ada bayangan.
Untuk Jakarta Khat-ul Qibla pada tanggal 28 Mei akan terjadi pada jam 16:18WIB dan pada tanggal 15 Juli pada jam 16:27WIB. Semua bayangan matahari akan segaris dengan arah Kiblat.

Nah silahkan anda tunggu saat yg baik ini untuk ngelempengin sajadah tepat kearah koblat. Periksalah ulang surau, mesjid apakah arah kiblatnya sudah 100% tepat mengarah ka’bah.

Meski kita telah kembali menggunakan Ka’bah universal time cordination (kutc), yg berbasis pada kalender qomariyah – syamsiiya, yg populer diesebut kalender jawa/islam, Kita tetap tidak boleh meninggalkan sistim kalendar Gregorian (kalender masehi). Karena ke dua sistem kalender adalah asset dunia.

Jumlah hari dalam satu tahun berbeda 11 ari dimana kalender Islam lebih sedikti harinya (354 hari), maka Hari-hari besar Islam tidak jatuh pada hari yg sama pada kalender Gregorian. Dalam sistim kalender manapun dikenal dengan tahun kabisat (long year). Tujuan adanya tahun kabisat adalah untuk melakukan koreksi agar tanggal hari memilki akurasi sepanjang masa.

Dalam kalender Jawa/Islam, tahun kabisat terjadi setiap 11 tahun sekali. Yaitu dengan menambahkan 1 hari pada bulan Dzulhijah. Berbeda dengan kalender Gregorian dimana tahun kabisat dengan memnempatkan bulan Februari sebanyak 29 hari. Namun demikian kalender Gregorian jumlah hari dalam 1 tahun tidak tepat 365 Hari. Tepatnya 365,242217 Hari. Seingga memerlukan Koreksi pada 4 tahun sekali pada bulan februari dan setiap tahun kelipatan 100. Misalnya tahun 2100 yg akan datang, tidak akan disebut tahun Kabisat. Meski angka tahn habis dibagi 4. Tetapi tidak habis dibagi 400. Bisa ada cek di kalender abadi bahwa tahun 1700, 1800, 1900 dan 2100 tidak katakan sebagai tahun kabisat.

Akurasi kalender Jawa/Islam terjadi sepanjang zaman, karena koreksi dilakukan dalam jangka yang pendek yakni setiap 11 tahun sekali. Berbeda dengan kalender Gregorian, sepintas terlihat akurat. Namun pada tahun 3323 Masehi yg akan datang akan terjadi selisih 1 hari (data dari badan Hisab Dep. Agama RI). Jelasnya anak cucu cicit kita akan mengalami koreksi tanggal di tahun 3323 Masehi. Dimana kemungkinan yg paling mudah diperkirakan adalah tidak ada tanggal 31 Des 3323, Dalam arti setelah 30 Desember 3323 akan Jump ke tahun baru1 Januari 3324.

Namun Demikian Feature akurasi kalender Gregorian dapat umat muslim manfaatkan untuk melakukan Bearing arah ka’bah dengan akurat. Peristiwa ini disebut dengan Khat-ul Qibla, yang terjadi hanya dua kali dalam setahun Masehi, Yakni pada tanggal 28 Mei dan 15 Juli. Dimana posisi matahari tepat pada kordinat 40 derajat BT dan 21 derajat LU. (greenwich). Kordinat tsb adalah posisi kota Makkah. Dengan kata lain panjang siang dan malam di kota Makkah adalah sama persis.

Pada saat jam 12:00 WSA, Matahari tepat 90 derajat diatas kota Makkah (Ka.bah). Sehingg Ka’bah pada saat itu tidak ada bayangan.
Untuk Jakarta Khat-ul Qibla pada tanggal 28 Mei akan terjadi pada jam 16:18WIB dan pada tanggal 15 Juli pada jam 16:27WIB. Semua bayangan matahari akan segaris dengan arah Kiblat.

Nah silahkan anda tunggu saat yg baik ini untuk ngelempengin sajadah tepat kearah koblat. Periksalah ulang surau, mesjid apakah arah kiblatnya sudah 100% tepat mengarah ka’bah.

Mengapa Penting KEMBALI pada tata waktu Ka’bah (KUTC) ?
Dalam literature disebut betapa pentingnya umat muslim “KEMBALI” berpedoman kepada sistim tata waktu Islam KUTC. Karena basis sistim merujuk pada al qur’an pada surat al hujurat QS:49:1 yg turun akibat perselisihan diantara umat muslim sebagai shab n-nuzul (sebab musabab) turunya ayat2 tersebut. Jka berpegang pada KUTC makan diyakini tidak terjadi perselisihan dalam menjalankan ibadah utamanya pada peristiwa2 penting (Puasa, Ied Fitri, Ied Adha, Ruq’ya Hillal dll).

Hadist diriwayatkan oleh imam Bukhari yang meriwayatkan sebuag hadist melalui Sanad ibnu Jura’j, yg bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Abdullah ibnu Zubaer (saksi mata), bahwa telah seseorang telah datang ke Rasulullah SAW utusan dari Bani Tamim, Sahabat nabi Abubakar Ashidiq berkata:”Jadikan Al Qo’qo ibnu Ma’bad sebagai emir bagi kaumnya”., Tetapi Usman ibnu Khatab mengusulkan Al Aqro ibnu Haabis sebagi emir Bani Tamim. Dari selisih pendapat inilah turun surat Al Hujurat. QS49.

Yg diurai diatas adalah sebagian hadist2 yg meriwayatkan tindakan Rasulullah yg membatalkan ibadah dan memerintah untuk mengulangi, karena mereka mendahului sebelum Rasulullah melaksanakan sendiri.

Mengingat Greenwich Meridian system yg membelah bola dunia menjadi dua, meridian negatip dan meridian positip telah digunakan secara syah mulai tahun 1884 berarti sudah lebih 100 tahun dipakai. Greenwich meridian di jadikan pedoman peta dunia dan memang harus diakui memiliki kebenaran absolute yg tak terbantahkan. Semua aktivitas perjalanan laut, udara, pendakian gunung, ruang angkasa. Mengacu pada Greenwich meridian. Meski asal mula metode ini berasal dari ilmu falaq yg lahir di timur tengah. Semua aktivitas lahiriah bisa di cakup oleh metode ini
Satu hal yg tidak dicakup dengan Greenwich meridian, adalah pelaksanaan ibadah Maddah bagi umat muslim. Maka pihak barat tidak menamakan (claim) tata waktu greenwich sebagai Greenwich Time Universal. (GTC), melainkan menamakanya dengan Greenwich Mean Time (GMT). Meski GMT memiliki kebenaran absolut tak terbantahkan tetapi belum bisa dikatakan berlaku universal.

Menerima konsep KUTC dengan rujukan Ka’bah meridian system artinya umat islam menemukan kembali sistim waktu islam yg selama ini terlupakan atau ditinggal, karena pengembangan Greenwich meridian system telah maju pesat. Bahkkan standard waktu GMT sekarang ini sudah tergantikan dengan Zullu Time yg dikenal dengan Universal Time cordination (UTC) setelah ahli tehnik dan astronomi barat inten melakukan research dengan berhasil menciptakan jam super akurat yang dikenal dengan jam atom yg menggunakan cessium 133 pada dekade 1950an.
Jam yg ada di komputer kita dapat kita juga di sinkronisasikan dengan jam atom yng dihubungkan ke time server USNO (US naval observatorium) atau ke id.pool.ntp.org dan sinkronsisasi otomatis berkala setiap 7 hari sejak kita melakukan sinskronisasi pertama kali.

Dengan memahami konsep KUTC, dan mindset kita sepenuhnya memahami bahwa ibadah maddah (sembahyang, puasa, Qurban dll), dilakukan tidak mendahulu waktu Ka’bah, maka tidak ada lagi keragu-raguan atas ibadah yg dilakukan tidak mendahului dan rasa bebas dalam arti tidak mendahului rasul.

Sangat di pahami kita ada umat diantara kita yg menafsirkan KUTC hanyalah suatu trasformasi linear dari meridian +40 dijadikan meridian 0 derajat. Karena hal ini terbiasa menggunakan sistim waktu GMT sejak dini. Sehingga sulit untuk keluar dari kebiasaan yg telah dilakukan puluhan tahun.

Secara tehnologi memang harus kita akui bahwa tehnologi muslim jauh tertinggal dari tehnologi yang dicapai oleh pihak barat. Sehingga banyak menimbulkan kecemburuan kepada pihak barat. Dalam kurun 50 tahun kebelakang tidak satu pun tehnologi yg di patenkan oleh pihak muslim. Sehingga kita hanya menjadi user suatu tehnologi.

Kalaulah boleh di izinkan kita mengeluh, energi dan waktu kita hanya dihabiskan untuk “perang dalil”, ribut silang pendapat setiap soal penentuan waktu awal puasa dan hari shalat ied. berkutat cemburu dengan pihak barat. Sehingga kita tidak memiliki investasi apapun untuk kontribusi bagi kemaslahatan kehidupan di Bumi.

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Mon, Jan 26, 2009 at 1:14 PM
To: N*****

Tulisan anda bagus sekali (saya yakin ini tulisan anda karena tidak ditulis nama penulis dan sumber tulisan). tetapi belum menjawab pertanyaan saya sebelumnya:

Kenapa 7,5 derajat sebelah timur? GMT menyederhanakan bola bumi dibagi 24 jam, sehingga setiap 15 derajat perbedaanwaktunya 1 jam. Padahal berdasarkan tulisan anda
“Kata Sa’ah (baca:saat), yang berarti waktu pada al Qur’an ada 48 tempat.”

Seharusnya perbedaan waktu terjadi tiap 30 menit (7,5 derajat). Untuk hal ini, saya lebih cenderung 3,75 derajat timur dan barat. Dengan demikian:
1. IDL-nya 3,75 sebelah timur mekkah
2. o derajat berada di Mekkah
3. Pembagian Waktu di Indonesia menjadi:
– KUT +17,5
– KUT +18
– KUT +18,5
– KUT +19
– KUT +19,5
– KUT +20
– KUT +20,5

Artinya apa? penentuan IDL untuk KUT ini nantinya akan berlarut-larut pro-kontra dengan argumen masing-masing;
1. 3,75 derajat sebelah timur Mekkah ataukah seperti saran anda 7,5 derajat?
Mungkin ada yang menghendaki lebih akurat lagi dengan perbedaan waktu tiap 15 menit.
artinya IDL berada 1,875 derajat sebelah timur Mekkah.
2. setelah masalah IDL selesai, muncul lagi masalah: kalau ada masjid yang terpotong oleh garis ini ikut yang mana? sebelah barat atau timur? ataukah kompromi shalat jumatnya di masjid itu ada dua hari?
=
Selain itu ada beberapa point yang saya cermati di artikel tersebut:
secara umum adalah tidak dicantumkannya Daftar pustaka sehingga menyulitkan saya untuk mengecek kebenaran tulisan.

1. Sistem almanak syamsiyah ditetapkan oleh ‘umat islam’ siapa?

penanggalan islam awalnya melihat bulan purnama kemudian berubah melihat ke hilal“. Sumbernya darimana? dan siapa yang menentukan ‘perpindahan pengamatan’ dari bulan purnama ke hilal?

2. Kita semua pasti tahu bahwa pergerakan langit tergantung dari posisi mana kita melihat:
Bila tidur telentang dengan kepala diutara, kaki di selatan= langit tampak bergerak dari kiri ke kanan
Bila tidur telentang dengan kepala diselatan, kaki di utara= langit tampak bergerak dari kanan ke kiri

3. “Jam 12:00 WSA (Waktu Saudi Arabia), posisi matahari tepat 90 derajat di atas Ka’bah” INI hal yang TIDAK PERNAH TERJADI.
Perhitungan (versi saya); Saat TENGAH HARI, yaitu matahari melewati BUJUR Ka’bah rata-rata terjadi pada pukul 12:21 WSA, tepatnya 12:20:40 WSA, rentang terpendek dan terjauh= 12:04-12:36 WSA (TIDAK PERNAH ada jam 12:00 tepat!)
Sedangkan ‘posisi matahari persis di atas ka’bah’ terjadi dua kali, pada tanggal:
28 Mei jam 12:18 WSA
16 Juli jam 12:27 WSA
TIDAK PERNAH jam 12:00 WSA.

Kecuali ada setting baru KUT seperti ide anda yang ‘menginginkan khot-ul qibla harus terjadi’ pada jam 12:00 maka setting jam rata-rata tengah hari nantinya akan ada dua pilihan:
Sebagai jam 12:03, atau 11:54 WSA(KUT).

PILIHAN I. TENGAH HARI RATA-RATA JAM 12:03 WSA(KUT)
posisi matahari persis di atas ka’bah’ terjadi dua kali:
28 Mei jam 12:00 WSA(KUT)
16 Juli jam 12:09 WSA(KUT)

PILIHAN II. TENGAH HARI RATA-RATA JAM 11:54 WSA(KUT)
posisi matahari persis di atas ka’bah’ terjadi dua kali:
28 Mei jam 11:52 WSA(KUT)
16 Juli jam 12:00 WSA(KUT)
(Cat.Untuk tahun kabisat datanya menjadi: 27 Mei dan 15 Juli)

4. IDL tidak bisa dicampur-adukkan dengan pertama kalinya muncul hilal (Lunar date Line)
Konsep GMT/ KUTC tidak berhubungan dengan awal pelaksanaan puasa, karena awal puasa adalah hisab, hisab rukyat dan rukyat.
Dengan KUTC pun bila sudah masuk Wujudul hilal, bagi salah satu ormas terbesar, mereka besoknya tetap akan puasa walaupun hilal belum terlihat baik di Jakarta maupun arab. Ini berlaku baik IDL di pasifik ataukah di Mekkah.
tetapi bila maksud artikel di atas adalah jangan mendahului puasanya Mekkah. Maka walaupun hilal sudah tampak jelas di Indonesia, muslim Indonesia tetap menunggu lusa karena Saudi baru besok puasa (bila ada laporan hilal di Saudi).

Contoh Kasus versi KUT:
Senin sore hilal sudah tampak di Aceh, tapi Indonesia besoknya belum bisa puasa karena hari itu saudi belum puasa (tidak boleh mandahului Mekkah).
Mekkah lalu masuk selasa sore (karena IDL di Mekkah). ada dua kemungkinan:
– Ada laporan hilal, maka besoknya awal puasa (rabu). Indonesia juga akan ikut puasa hari rabu. Padahal seharusnya sudah bisa mengawali hari selasa.
– Ternyata belum ada laporan hilal di Arab, maka awal puasa menjadi hari kamis. Indonesia juga ikut puasa kamis (karena tidak boleh mandahului Mekkah).
Perhatikan;
senin sore di aceh sudah terlihat hilal, maka selasa sore hilal ini makin jelas dan makin banyak yang bisa melihatnya tapi apa daya, umat harus mengawali puasa hari kamis (karena tidak boleh mandahului Mekkah).

Faktanya nanti akan tetap ada aliran/ golongan yang berpedoman hilal sudah terlihat maka besok awal puasa, walaupun saudi belum berpuasa. Ini menunjukkan sistem GMT/ KUT tidak berhubungan dengan hisab rukyat dan tidak merubah PERBEDAAN penentuan awal bulan hijriyah.

Artikel anda selanjutnya lebih menguatkan bahwa IDL (GMT/KUT) berbeda dengan ILDL;
IDL= garis mengikuti garis bujur, lokasi tetap
ILDL= garis lengkung seperti parabola, garis ini lokasinya berpindah-pindah tiap awal bulan hijriyah.
sebelah barat garis ILDL= besoknya bisa berpuasa
Sebelah timur ILDL = besoknya belum bisa berpuasa

Awal puasa di tentukan oleh garis ILDL ini, bukan dengan IDL (GMT/ KUT)

5. Ralat sistem kabisat Hijriyah:
“Tahun-tahun yang mendapatkan tambahan 1 hari adalah tahun-tahun yang angkanya merupakan kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29.”

Baca di:
ALMANAK BERDASARKAN HISAB URFI KURANG SEJALAN DENGAN SUNNAH NABI SAW: SURAT TERBUKA UNTUK PAK DARMIS, karangan Syamsul Awar (file pdf dari Rukyatul Hilal Indonesia)

Sekali lagi mohon dikirim rancangan KUTC ini, terutama garis IDL-nya.Trims

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Tue, Jan 27, 2009 at 1:22 AM
To: nafan akhun

Itu bukan tulisa saya pak, tapi cuma kesimpulan dari buku yang saya sebut tempo hari judulnya “KUT (Kabah Universal Time) Re-Inventing the missing bla,.bla,..bla..bla..Of Islamic Calendar” Karangan Budhiyono terbitan Pilar Press (itu juga alo masi ada), buku ini ga populer banget sih saya cuma dapet fotocopynya dari temen dan di toko2 buku “sementara ini” juga kaga ada yang jual.

Kalau saya sih ga tau apa2, saya cuma punya kepedulian ama masalah ini THAT’S ALL,
And All I do is just asking EVERYBODY to give me EXPLANATION about THIS,

so how bout you is THIS really MATTER to you?

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Tue, Jan 27, 2009 at 2:11 AM
To: N*****

Point-point yang saya kemukakan menunjukkan bahwa tulisan tersebut ternyata terlalu menyederhanakan masalah, argumen-argumen dapat dengan mudah dipatahkan. saya pikir jawaban saya sudah sangat jelas bahwa IDL tidak boleh melewati daratan.

saya tunggu jawaban anda terhadap point-point tersebut

Kalo anda masih belum puas dengan jawaban saya silahkan berdiskusi dengan orang yang (menurut saya) kompeten terhadap masalah ini, yaitu pak Thomas Jamaludin (LAPAN) atau orang-orang RHI (rukyatul Hilal Indonesia, milis RHI@yahoogroups). Tetapi saran saya jangan hanya wacana dan kampanye tanpa dibekali konsep usulan.
saya ngerti maksud anda bahwa Indonesia jangan mendahului Mekkah, tetapi batas IDL ini harus anda kemukakan dengan argumen yang jelas, agar lebih terfokus.

Kembali ke Sub Judul

N:
N***** Thu, Jan 29, 2009 at 1:51 AM
To: nafan akhun

OK,…thanks for your attention, and my last questions APAKAH HARI
BERSIFAT RELATIF?,….please answer!

Kembali ke Sub Judul

Genghis Khun:
nafan akhun Thu, Jan 29, 2009 at 7:15 AM
To: N*****

Anda pernah berkata;
“patokan” saya sih simpel Hari SABTU sistem GMT (yang kita pake sekarang ini), ya jadi hari JUMAT kalo pake sistem MMT”
Tetapi ternyata tidak pernah menjawab ketika saya tanya kenapa batasnya 7,5 derajat di timur Mekkah (bukannya 3,75 atau 1,875)?
Juga tidak berani menjelaskan masalah yang akan muncul bila IDL melalui daratan.

oke deh, tidak apa-apa..

Tentang hari saya berani menjawab bahwa hari-hari adalah ABSOLUT, terutama daerah Timur tengah. Yang relatif adalah batas pergantian hari (IDL).

Saya kutipkan lagi tulisan saya di:
http://genghiskhun.com/2008/04/26/garis-batas-hari-internasional-validitas-gmt/

“Bagian 2: Tentang Hari Jum’at
Bila masalah tata nama dan urutan hari dihubungkan dg Tuhan, maka berhubungan pula dengan nabi-nabi. Sejak jaman nabi Musa a.s sampai dengan Isa a.s HARI2 sdh eksis dan menyatakan bahwa ibadah mereka adalah hari sabtu. Sedangkan hari istimewa bagi muslim adalah Jum’at. Mereka semua berada di daerah Timur Tengah, maka sampai sekarang hari2 didaerah BUJUR TERSEBUT bisa dikatakan tetap valid.”

Kembali ke Sub Judul

Mungkin masih bersambung …


Januari 29, 2009 - Posted by | Agama, Astronavigasi

1 Komentar »

  1. izin share gan

    Komentar oleh sulaiman | Agustus 30, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: