FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

GMJ 1: Titik Tolak

Kamis, 8 Maret 2012
Sore yang cerah, selagi asyik bercanda dengan Indri, istri tercinta dengan Fakhira, putri pertama berusia 1 tahun 6 bulan yang lagi lucu-lucunya, tiba-tiba terasa ada getaran dua kali HP di saku celana sebelah kanan, pertanda ada SMS masuk.
Segera saya ambil Handphone Nokia yang selalu dalam profil Silent tersebut.


Isi SMS dari MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) mengabarkan bahwa saya termasuk rombongan GMJ jalur darat yang akan berangkat keesokan harinya, yaitu hari jumat. Ya hari Jum’at, tidak seperti informasi sebelumnya yang menyatakan bahwa saya akan berangkat pada hari sabtu!

Dengan adanya pemberitahuan terakhir ini, berarti batallah acara bersama istri untuk mengunjungi Islamic Book Fair di Senayan esoknya.

Malam itu saya dibantu Indri mulai menyiapkan perbekalan yang akan dibawa keesokan harinya. Dalam rangka perjalanan darat misi Global March to Jerusalem yang akan memulai start-nya di Negara Pakistan.

Perlengkapan standar saya adalah 1 buah Koper dan 1 buah tas punggung dengan isi sebagai berikut:

KOPER:
1. Pakaian (Kemeja resmi min. 2 buah, Kaos min 2 buah, Kaos tidur min 2 buah, Celana resmi min 2 buah, Celana lapangan 1 buah, Celana Dalam min. 4 buah, kaos dalam min. 4 buah, Jaket Tambahan dan sarung)
2. Perlengkapan perawatan diri (Handuk kecil, Alat pemotong kuku, Obat nyamuk elektrik dan lotion)
3. Perlengkapan Ibadah (Al Quran, Kopyah, Kompas Kiblat ~ternyata tidak pernah dipakai karena petunjuk arah kiblat diperoleh dari posisi bintang di langit~)
4. Peralatan makan dan minum (piring, sendok, garpu, gelas, Swiss Knife, pemasak air elektrik, Thermos ~tidak jadi dibawa~)
5. Multimedia (TV Tuner, DVD RW portable, CD recovery, Antena TV ~tidak jadi dibawa~)
6. Buku bacaan
7. Tas Kresek besar min. 2
8. Sandal jepit

Tambahan dari MER-C:
– Kaos dan celana LongJohn, Kaus Tangan dan Kaus Kaki
– Jaket, Baju, Rompi, Topi
– Sleeping Bag
– Senter dan headlight

TAS PUNGGUNG (Hindari barang dari logam):
1. Laptop/ Tablet/ Camera/ HP beserta ‘rombongan’nya (Charger, Earphone, Card reader, Modem, Obeng mini, Colokan Sambungan T), ternyata charger HP ketinggalan…
2. Map kedap air berisi Buku dan Alat Tulis (Pulpen, Spidol)
3. Peralatan perawatan diri mobile (Sikat, Odol, Sabun , pencuci muka, Shampoo, sisir, cukur kumis, cermin kecil, Minyak wangi, Cotton Bud)
4. Slayer/ Udheng multifungsi (Penutup kepala, muka, handuk)
5. Obat-Obatan Pribadi dan Permen ! dikunyah waktu pesawat take off dan landing
6. Payung

Jum’at , 9 Maret 2012
Hari menjelang siang, pukul 09.30 WIB, saya bersama istri menunggu datangnya mobil Avanza yang sedang dipakai oleh Henri, adik ipar~ adik kandung Indri, di emperan Indo maret kompleks pom bensin Bojong Pondok Terong, Depok.
Bang Azis menelepon seperti orang tak sabar;

“Mas, sampeyan dimana? Yang saya urusi bukan sampeyan thok lho mas, cepetan kesini..”
“Iya bentar bang, ini lagi nunggu mobil yang akan nganter ke sana” jawab saya sambil meminta pertimbangan Indri.
“Cepetan mas”..terdengar lagi suara Azis yang cenderung kelelahan daripada kejengkelan…

Usai telepon ditutup Indri mengusulkan agar saya naik KRL saja, biar cepat dan tidak membuat yang lain pada menunggu, karena dijadwalkan usai shalat Jum’at semua rombongan akan meluncur menuju bandara Soekarno Hatta. Sedangkan sekarang jam sudah menunjukan pukul 10.30 tapi saya masih di Depok.

Tampak mata Indri mulai berkaca-kaca, perasaan wajar bagi seorang istri yang akan ditinggalkan oleh suaminya. Namun beban yang dihadapinya mungkin lebih berat bila terngiang ucapan teman sekerjanya beberapa hari yang lalu.

“Lho… mbak Indri sudah siap menjadi janda?”
Ditambah lagi peristiwa kemarin ketika saya membeli cat tembok warna Ungu, yang menurut dia melambangkan janda!

Saya hanya berucap untuk membesarkan hatinya, bahwa dimanapun, tidak harus berhadapan dengan Israel, kalau sudah waktunya meninggal akan tetap meninggal hari itu juga. Bila belum ditentukan meninggal, tiap hari ketemu Israel pun tidak akan meninggal.

Akhirnya pada pukul 13.00 saya (Raja Genghis Khun), ratu Indri dan Princess Fakhira, yang dikawal oleh bang Rombet dan mang Dadang tiba di markas MER-C di Kramat Lontar.
Segera packing ulang untuk memuat perlengkapan tambahan sesuai SOP (Standart Operating Procedure) dari MER-C. Hari itu saya membuktikan bahwa cara melakukan packing dengan cara menggulung pakaian (yang biasa dilakukan para pendaki gunung) ternyata masih kalah ampuh dengan cara yang biasa saya lakukan; pakaian ditumpuk biasa tapi diposisikan vertikal di dalam koper. Hasilnya sangat efektif: sleeping bag turut masuk ke dalam koper!

Sabtu, 10 Maret 2012

Alhamdulillah, Setelah menempuh perjalanan panjang, lama dan melelahkan, terbang bersama Airbus A330 milik Qatar airways, kami (Delegasi GMJ Jalan Darat, Indonesia+ Filipina) berhasil mendarat di Jinnah International Airport, Karachi, Pakistan dini hari pada pukul 04.45 Waktu Karachi (GMT+5). Sebelumnya sempat transit di Doha-Qatar kira-kira satu jam.

Transit di Doha? Mungkin terdengar lucu karena letak Doha lebih jauh dari Pakistan (Doha lebih ke barat dan lebih dekat ke Arab Saudi). Begitulah, karena itu rute dengan tiket pesawat termurah🙂

Di area bandara, sembari mengambil bagasi, bergantian menunaikan shalat subuh sebelum keluar area bandara. Di tempat ini arah Kiblat menghadap ke barat daya; barat agak ke selatan, karena posisi Karachi yang berada lebih utara di bandingkan Mekkah.

Rombongan berjalan menuju keluar bandara, tanpa diduga, ternyata telah siap tim GMJ Pakistan untuk menyambut kedatangan kami, mr. Ali Reza dkk yang semuanya berjumlah 6 orang. Sesuai adat menjemput tamu dari jauh, masing-masing delegasi diberi kalung untaian bunga sebagai tanda ucapan selamat datang. Usai ramah tamah dan pengambilan dokumentasi sejenak, Seluruh rombongan naik dalam bus seukuran metromini untuk menuju penginapan.

Bus melaju dengan ‘serampangan’ sambil membunyikan klakson yang bunyinya mirip terompet tradisional suku Skotlandia (Bagpipe). Dan ternyata hampir semua kendaraan yang kami temui cara mengemudikannya juga serampangan. Ini terlihat dari cara belok atau memotong jalur. Nggak jauh berbeda dengan sopir Metromini di Jakarta.

Saya mencoba mengajak bicara supir memakai bahasa inggris sembari berlatih, eh ternyata si supir nggak bisa berbahasa Inggris, hanya senyum senyum menunjukkan giginya yang kotor dan kecoklatan, penuh tempelan nikotin…

Untung si Reza yang ganteng, Muhammad Ali Reza, seorang aktivis yang masih berstatus mahasiswa, mau memuaskan hasrat saya untuk ngobrol, walaupun kadang mengernyitkan dahi tanda nggak ngerti maksud celotehan inggris saya.

Perjalanan kira-kira setengah jam ketika bus mulai memasuki Gulshan-e-Maymar. Saya berpikir kenapa Karachi demikian sepi? Ternyata kami hanya menyusuri pinggiran kota Karachi. Dari Bandara bus bergerak menuju ke utara, sedangkan pusat kota Karachi menuju arah barat.

Tak lama tibalah kami di kompleks kantor PILER (Pakistan Institute Labour Education & Research), yang beralamat di ST-001, Sector X, Sub-Sector V, Gulshan-e-Maymar, Karachi 75340 Pakistan sebagai tempat menginap.

Area PILER CENTRE merupakan suatu bujur sangkar, terdiri dari 4 gedung; 2 gedung besar dan 2 gedung kecil tak lebih dari dua lantai. Dua gedung besar; salah satu untuk kantor dan yang lainnya adalah kamar-kamar. Gedung untuk kamar, masing-masing lantai terdiri dari 8 kamar dan 2 toilet di masing-masing ujung.

Setiap toiletnya dibagi menjadi 4 bagian. 2 kamar untuk mandi shower dan 2 kamar untuk buang air besar. Mandi shower? Wow jangan ditanya.. suhu di sini dingin dan shower air panas nggak berfungsi.
Sejak saat itu saya tahu bahwa ‘isi standar kakus’ di Pakistan (juga negara-negara di dekatnya) adalah toilet jongkok dan ‘ceret’ sebagai gayung dan kran setinggi 40 cm dari lantai.

Tim dari Indonesia mendapat jatah kamar di lantai dua, dan saya sekamar dengan Faiz dan Kamal Putra. Kamar untuk para akhwat di salah satu gedung kecil. Kami direncanakan akan menginap di sini, PILER, Karachi selama 3 hari sembari menunggu kedatangan rekan-rekan dari India dan Bangladesh.

Tak lupa mege-tes SMS untuk mengirim kabar ke istri dan…. terkirim! Betapa senangnya🙂 sayangnya pulsa sangat mahal. Untuk sekali SMS dikenai biaya Rp. 4000,- jadi harus berhemat.

Gedung kecil satunya lagi yang di sebelah kanan adalah ruang makan dan dapur, tempat yang nantinya akan berguna untuk tempat ngobrol, diskusi dan koordinasi. Panitia ternyata juga menyiapkah perangkat WIFI untuk koneksi internet yang diletakkan di ruang makan.

Menu makan siang adalah nasi goreng khas Pakistan secara prasmanan, dengan minuman teh susu (?) yang akan menjadi menu keseharian hingga saya sangat merindukan sayuran hijau…


Chicken Qoarma. Salah satu menu makanan

Di kala senggang mencoba mengetes GPS manual, mencari koordinat posisi dengan bantuan bayangan matahari (Baca artikel sebelumnya di gps-alami-penentuan-posisi-dengan-bantuan-matahari)

Malam itu, ada satu hal yang saya tunggu-tunggu kehadirannya. Kangen yang menyeruak dan rasa ingin tahu yang dalam… *sesuatu banget yah?*🙂 yaitu bintang Polaris.

Bintang Polaris, hanya dapat dilihat di belahan bumi utara. Jadi tidak pernah akan terlihat dari Jawa, bahkan di ujung Aceh yang merupakan bumi bagian utara pun tetap sulit untuk terlihat. Padahal ini adalah bintang yang bersejarah, sebagai pemandu para navigator sejak jaman dahulu.

Berikut ringkasan perjalanan hari ini:

[Bersambung]


April 12, 2012 - Posted by | Petualangan | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: