FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

GMJ 6: Aksi Puncak di Jordan

Rabu, 28 Maret 2012
Pagi hari di atas kapal Emeraude Express dalam perjalanan menuju Lebanon, saya terbangun dan langsung menunaikan shalat subuh. Saya lihat teman-teman rombongan Global March to Jerusalem sudah pada ikut terbangun. Tak berapa lama antrian toilet mulai memanjang..


Kapal Emeraude Express, kira-kira panjangnya 30 m. Ruang penumpang dipisah menjadi dua bagian, depan dan belakang, oleh tangga ke atas menuju ruang kemudi yang berada di atap/ palka. Tempat duduk juga ada tiga baris yang dipisah oleh ruas jalan; sayap kiri, tengah dan sayap kanan yang masing-masing terdiri dari 5 deret kursi.

Daripada duduk bengong melihat teman-teman yang masih melanjutkan tidurnya, terbersit keinginan untuk beranjak ke depan, menuju ke luar geladak kapal, hendak meniru adegan film Titanic (what?). Pintu depan sudah hampir saya buka ketika terdengar teriakan larangan dari teman-teman India yang duduk di deretan bangku depan. Kalau pintu dibuka, angin dingin akan masuk menerpa begitu kata mereka.

Kecewa? Tentu saja. Saya beringsut balik lagi ke belakang, ke tempat duduk semula. Baru tersadar bahwa di samping toilet adalah sebuah pintu yang menuju bagian belakang kapal (Buritan). Saya menunggu-nunggu datangnya kesempatan, ketika petugas mesin membuka pintu belakang saya ikut menyelinap…

Duduk manis di Buritan, ditemani gemuruh dan percikan ombak, menikmati pemandangan pagi hari laut Mediterania sambil menunggu kehadiran lumba-lumba (yang ternyata tidak pernah nongol hingga kapal berlabuh di Beirut)


Pagi pukul 07.00 waktu lokal mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express akhirnya bersandar di tempat yang tidak jauh dari kisah peristiwa tertembaknya Kapal perang Israel “HANIT” oleh pejuang Hezbollah pada saat perang Lubnan tahun 2006.

Perang Lubnan juga dikenal sebagai Perang Israel-Hezbollah 2006. Kisah yang paling menarik adalah saat Hasan Nashrallah memberi perintah secara live (siaran langsung di televisi) dan disaksikan oleh jutaan orang diseluruh dunia. Memberi aba-aba untuk menembak kapal perang Israel HANIT yang berada dekat dermaga Beirut. Peristiwa memalukan ini terjadi pada tanggal 17 Juli 2006.
Film-nya bisa dilihat di:
http://www.youtube.com/watch?v=Pc4PkbxSNME (ini sepertinya sudah di sensor) atau http://www.youtube.com/watch?v=TTwMa_Znj9g

Kronologis pertempuran bisa dibaca di: http://rieff02.multiply.com/journal/item/18/34_Hari_Perang_Lebanon-Israel_Eskalasi_Serangan_Tertinggi_di_Timur_Tengah

Saya mengusap jam tangan untuk membersihkan bekas percikan air laut, saat itu pukul 09.30 waktu Beirut.

Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi dari negara lain yang sudah berkumpul di Lebanon selatan. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur; belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut.

Untuk menghibur diri, saya menaiki ruang nahkoda di anjungan dan meminta ijin untuk mengambil gambar. Kapten Kapal membolehkan dengan syarat tidak mengambil gambar tentara Lebanon yang berjaga di pinggir dermaga.

Penasaran dengan Sextant
Iseng-iseng saya bertanya pada Kapten Kapal, apakah mereka mempunyai Sextant, piranti Navigator yang telah digunakan berabad-abad (walaupun sekedar pajangan)

“Di sini tidak ada Sextant, kami sudah menggunakan GPS, itu piranti (Sextant.red) sekarang dimana-mana harganya sangat mahal” ujar Kapten menjelaskan.

Harapan sirna, semoga di lain kesempatan saya bisa memegang barang antik tersebut dan memilikinya. Amiin…

Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar.

Jam 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Lebanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Lebanon (tentu saja atas lobby Israel di belakang layar).

Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/ atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal.

Khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang, mendapat jaminan visa dari KBRI Lebanon sehingga mendapat kemudahan untuk keluar dari kapal, dengan syarat yang digaris bawahi: delegasi Indonesia dilarang menuju Lebanon Selatan.

Syarat ini bisa menjadi masalah di kemudian hari, karena delegasi GMJ Indonesia I memutuskan berjuang di dua front; front Lebanon selatan dan front Jordania.

Bagi front Jordania, syarat tersebut tidak menjadi masalah karena delegasi Indonesia memasuki Beirut hanya sekedar transit, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan via udara menuju Amman, Jordania pada malam harinya.

Menjelang maghrib kami baru bisa keluar dari Kapal ! Ya menjelang maghrib… (padahal kami berlabuh pagi hari)


Perpisahan


Teman-teman masih belum bisa turun

Pukul 19.30 waktu lokal rombongan dari Indonesia menghadiri jamuan makan malam di KBRI, yang diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, Bpk. Dimas Samodra Rum.


Menu makan malam

Usai makan malam dan shalat, rombongan segera menuju bandara Internasional Rafiq Hariri Beirut, mengejar jadwal pesawat yang akan take off pada pukul 22.15 waktu lokal.

Alhamdulillah, penerbangan selama 45 menit lancar hingga mendarat di bandara Internasional Queen Alia Amman Jordania pada pukul 23.10.

Dari bandara Amman, kami (yang telah bertemu dengan panitia penjemputan) langsung meluncur untuk bergabung dengan rekan-rekan tim GMJ II yang telah menunggu di penginapan.

Sesampainya di penginapan, suatu apartemen di daerah Shafaa Badran (Dekat Levant Academic School) disambut oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp. OT, Ust. Hafidz dari DDII dan Mandira (mahasiswi). Sedangkan yang lain sudah pada tidur.

Di sini bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Namun kemudian ada himbauan agar menghemat air, setelah terdengar kabar bahwa pasokan air di pemukiman Jordan dibatasi oleh Israel. Saya sendiri akhirnya mandi tiap tiga hari sekali…

Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh informasi mengenai nasib teman-teman yang masih tertahan di atas kapal.

Kamis, 29 Maret 2012
Pagi hari dan siang hari, aktifitas kami hanya mengadakan acara evaluasi kegiatan GMJ jalur darat yang telah dilalui. Membahas segala kekurangan dan keterbatasan yang ada untuk dilakukan perbaikan pada GMJ tahun-tahun mendatang.

Usai shalat maghrib seluruh rombongan GMJ Indonesia menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman KBRI Jordania. Termasuk GMJ Indonesia dari koordinator yang lain. Selepas menikmati hidangan, diadakan acara ramah-tamah dan sambutan dari pimpinan masing-masing delegasi.
Acara dibuka oleh bapak Zainul Bahar Noor, Duta Besar selaku tuan rumah yang didampingi oleh istri, Ibu Rosidah.
Disusul oleh bapak Bachtiar Nasir selaku ketua ASPAC (Asia Pasific Committee for Palestine), kemudian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT selaku penggagas GMJ. Bapak Ferry Nur dari KISPA, Ibu Marwah Daud Ibrahim (ASPAC), koordinator AWG (Aqsha Working Group), M Hafidz dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah) dan Bu Siti Aminah Assegaf dari VOP (Voice of Palestine).

Masing-masing delegasi berkomitmen dan bersepakat bahwa rombongan dari Indonesia harus bersatu dalam satu barisan untuk acara yang akan digelar esok hari, 30 Maret 2012.
Usai acara resmi ditutup, dilakukan pembicaraan antar koordinator delegasi untuk membahas masalah teknis di lapangan, termasuk memilih Koordinator Pusat untuk seluruh rombongan, yaitu Ust. Agus Sudarmaji (AWG) dan Lilik Nur Kholili (ASPAC).

Acara berakhir pukul 23.00 waktu lokal, para delegasi menuju kediaman masing-masing untuk menyiapkan acara keesokan harinya.

Diperoleh informasi via SMS dari pelabuhan Beirut Lebanon bahwa tadi malam rekan-rekan delegasi GMJ dari India, Turki, Iran dan lain-lain sudah boleh menginjakkan kaki di Beirut dan sekarang dalam perjalanan menuju Nabakhtiye, Beirut Selatan.

Jum’at, 30 Maret 2012
Jordan memberlakukan Daylight Saving Time pada tanggal 30 Maret 2012 pukul 00.00, jadi kami harus menyetel jam dengan cara dimajukan 1 jam. Masing-masing negara memang punya kebijakan tersendiri dalam menentukan waktu musim panasnya. Misalnya sewaktu di Iran, berlaku mulai tanggal 21 Maret 2012 jam 00.00 waktu Iran (Baca di GMJ 4)

Usai shalat subuh, seluruh delegasi GMJ dari Indonesia bersiap-siap untuk hajatan besar di perbatasan Jordan-Palestina. Bekal wajib adalah aqua untuk menetralkan gas air mata dan kurma untuk pengganjal perut.

Pukul 08 waktu lokal, usai sarapan pagi, mengecek perbekalan dan briefing, rombongan berangkat menuju halaman gedung persatuan NGO Jordan, Camping Ski, suatu tempat yang telah disepakati di tengah kota Amman untuk bergabung dengan delegasi GMJ yang lain dan juga sebagai tempat awal pemberangkatan. Termasuk bergabung: rombongan yang baru saja menunaikan ibadah umrah serta para mahasiswa Indonesia di Jordan.

Iring-iringan kendaraan meluncur menuju daerah bernama Karome, sekitar 4 km sebelum perbatasan Jordan-Palestina. Di pilih lokasi ini karena pernah ada peristiwa bersejarah, disamping adanya ancaman dari pihak Israel bahwa barangsiapa mendekat perbatasan pada jarak 3 Km akan ditembak.

Di Karome pada tahun 1973 adalah medan pertempuran antara milisi Zionis dengan pengungsi Palestina yang alhamdulillah kala itu dimenangkan oleh pihak Palestina. Hari ini, ribuan orang dari berbagai negara dengan atribut masing-masing, berkumpul di lapangan luas dimana sudah disiapkan panggung, tenda-tenda dan fasilitas MCK.

Ada delegasi yang menarik perhatian, yaitu 4 orang Rabi Yahudi dari Amerika yang turut mengikuti acara ini. Mereka membentangkan spanduk dan poster yang mendukung kemerdekaan Palestina.

Pukul 13.00 waktu lokal terdengar suara adzan berkumandang. Seluruh delegasi GMJ dari berbagai negara yang saat itu jumlahnya sudah mencapai ratusan ribu bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jum’at.

Dengan keterbatasan fasilitas air, karena sumber air dikuasai oleh Israel dan pasokan untuk wilayah Jordan hanya dijatah 15-20%, maka para jamaah ada yang bisa berwudlu tapi ada pula yang cukup bertayamum.

Dan dengan alas seadanya, para jamaah mendengarkan khutbah berapi-api dari Hamam Saed, Pimpinan Ikhwanul Muslimin Jordania.

Shalat jum’at, yang arah kiblatnya menghadap selatan agak ke timur, dijamak dengan shalat Ashar dan berakhir pada pukul 13.50 waktu lokal.

Acara selanjutnya adalah orasi di atas panggung yang diawali oleh DR. Ahmad Obeidat, mantan Director Manager of The Intelligence Department of Jordan. Berturut-turut orasi dari pimpinan masing-masing delegasi dari berbagai negara, yang pada intinya menyerukan bahwa kemerdekaan untuk semua bangsa di seluruh dunia tanpa kecuali.

Kadang diselingi oleh yel-yel;
Takbir…! Allahu Akbar !!
Birruh..bidham..Nabdika ya Aqsha!!

Acara yang berlangsung di tengah teriknya panas matahari awal musim semi tak mengendurkan semangat para delegasi dan pengunjung yang turut menyaksikan acara ini.

Tampak seorang kakek tua yang bersemangat meneriakkan yel-yel dengan tangan terkepal di atas. Anak-anak kecil yang dicat mukanya, diberi gambar bendera Palestina atau negara Palestina di salah satu pipinya.

Menurut pengamatan, beberapa diantara pengunjung adalah para pengungsi Palestina yang tinggal di Jordania.

Acara usai pada pukul 16.00 waktu lokal, para delegasi GMJ dari berbagai negara berangsung-angsur membubarkan diri menuju kendaraannya masing-masing. Delegasi GMJ dari Indonesia meluncur kembali ke Amman untuk menghadiri makan malam di Gedung An-Naqabat Mihaniyah, milik Jordan Engineer Association (www.jea.org.Jo)

Selepas makan malam dengan menu makanan nasi goreng, ayam goreng dan acar wortel campur mentimun, rombongan GMJ kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Alhamdulillah, acara GMJ (Global March to Jerusalem) berhasil dilaksanakan dengan lancar.

Semoga kampanya GMJ jalur darat (Caravan) dan acara puncak hari ini bisa membuka mata dunia bahwa Israel dan Amerika masih tetap melakukan suatu kejahatan kemanusiaan; yaitu blokade atas Palestina dan meng-‘akuisisi’ Jerusalem secara sepihak, Jerusalem yang seharusnya milik ketiga agama untuk hidup rukun di dalamnya.


Penutup
Dari pengalaman ini, dapat diambil suatu saran bahwa seharusnya kampanye Caravan/ perjalanan jalur darat dilakukan lebih gencar. Dengan diawali Caravan, membuka mata masyarakat internasional lalu mencari tahu visi dan misi gerakan ini.

Kemudian diharapkan mereka terlibat aktif mendukung gerakan.
Saya melihat bahwa dukungan untuk Caravan sangat minimal, padahal bila hanya acara puncak tanpa didahului oleh Caravan, gemanya akan terasa sangat kurang, bahkan mungkin tidak ada.
Perlu diketahui, pada saat acara puncak GMJ, di Indonesia masih diramaikan oleh demo menolak kenaikan BBM.
Ada satu masalah lagi yang tidak perlu saya tulis di sini bahwa ego golongan bisa mencederai misi yang mulia.

Semoga aksi ini menjadi awal dari aksi-aksi yang akan datang, hingga tercapai kemerdekaan berdaulat Negara Palestina. Amiin…

Genghis Khun


Juli 27, 2012 - Posted by | Petualangan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: