FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

Resensi Buku: KUDETA MEKKAH-Sejarah Yang Tak Terkuak

kudeta mekkah Sebelum membaca buku ini, Saya sudah dicekoki informasi bahwa pada tahun 1970-an terjadi pemberontakan di Mekkah oleh segelintir jamaah Syiah dari Iran. Ternyata informasi ini dusta!

Ini adalah sebuah pemberontakan dari pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang hendak memurnikan Saudi Arabia dari modernisasi. Pemberontakan yang membuat ulama Saudi dalam posisi sulit dan serba salah karena aksi ini dilandasi oleh Al Quran dan Sunnah!

Kisah ini hingga detik ini sangat sensitif untuk dibicarakan:

“…Materinya sangat sensitif di Arab Saudi. Pemerintah sama sekali tidak mengijinkan akses untuk arsip-arsipnya, dan menghentikan penelitian mengenai topik ini..”

(Catatan Akhir hal 353)

==

Yaroslav Trofimov menuliskannya bak cerita dongeng sebelum tidur, alur yang runtut sehingga enak dibaca. Di awali dari kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Siti Hajar dan bayinya di padang pasir hingga mengerucut ke sejarah berdirinya Kerajaan Saudi (Dinasti Saud) dan akhirnya detik-detik pemberontakan yang dipimpin oleh Juhaiman Al Utaibiyah (Juhayman al-Otaybi, 1936-1980).

kudeta mekkah

Sejarah ini tentu sangat bagus untuk dipelajari, terutama bagi yang punya rencana membangun Dinasti. Ringkasannya sebagai berikut:

Kerajaan Saudi generasi 1
Aliansi antara Muhammad bin Saud (d. 1765) penguasa Dirra’iyah (Sekarang Riyadh) dengan Muhammad Bin Abdul Wahhab (1703 – 22 June 1792) dimulai pada tahun 1744.
Anak Ibnu Saud, yaitu Abdul Aziz (1765–1803), menikahi saudara Muhammad Bin Abdul Wahhab.
Setelah menggantikan kepemimpinan ayahnya, menjadi sebuah “kekuatan mengerikan” dengan melakukan pembantaian 4000 jiwa di Karbala untuk alasan pemurnian akidah, hal yang tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah sebelumnya:

“Para penyerang Badui memliki selera tertentu,yakni mengeluarkan isi perut wanita-wanita yang tengah hamil, dan membuang janin-janin mereka di atas mayat-mayat berdarah…”

(hal 24)

Ekspansi lebih luas dilanjutkan oleh keturunannya, Saud bin Abdul Aziz (1803–1814) hendak mengontrol kota suci Mekkah dan Madinah. Khalifah Ottoman saat itu, Sultan Mahmud II, segera mengirimkan pasukan dari Mesir di bawah pimpinan Muhammad Ali Pasha untuk menumpas pemberontakan ini pada 1811.

Penumpasan dilanjutkan oleh Ibrahim Pasha, sang anak. Dan pada tahun 1818, Anak Saud, yaitu Abdullah bin Saud (Amir Abdullah) dieksekusi.

“Raja Saudi yang kalah kemudian di gelandang ke Istanbul dan dipenggal kepalanya di depan St. Sophia, di tengah kembang api dan perayaan publik”

(hal 24)

Kerajaan Saudi generasi 2
Tidak diceritakan

Kerajaan Saudi generasi 3
Cerita dimulai pada Januari 1902 ketika Abdul Aziz bin AbdurRahman (Ibnu Saud, 15 January 1876 – 9 November 1953) menyerang Gubernur Riyadh saat itu. Kekalahan Gubernur Riyadh membuat Abdul Aziz leluasa meluaskan lagi daerah taklukan.

Sampai di sini kita mungkin agak bingung; apakah dinasti ini bertujuan untuk dakwah, mencari kekuasaan ataukah sekedar menuruti nafsu membantai?

==

Konflik Internal
Dimulai pada tahun 1924, terpecah karena Ibnu Saud menjalankan kebijakan modernisasi dan peningkatan jumlah orang asing non-Muslim di wilayah Arab. Sedangkan ada diantara pasukan Ibnu Saud (dinamakan Ikhwan) hanya menghendaki kemurnian ajaran sesuai Nabi Muhammad SAW.

Konflik berakhir di pertempuran Sabilla, menyisakan kehancuran di pihak Ikhwan. Kelak, salah seorang pasukan Ikhwan yang selamat, Muhammad bin Saif Al Utaibi, dianugerahi anak laki-laki yang diberinya nama Juhaiman.

==

‘Perang dingin’ antara pro vs anti-modernisasi bak api dalam sekam. dan Api ini makin membara sejalan dengan makin kencangnya impor ‘produk-produk setan’- TV, telepon, radio, mobil- yang dilakukan oleh Raja Faisal, anak Abdul Aziz.

Namun perang dingin ini berhasil ditutupi oleh popularitas Raja Faisal yang kala itu sangat peduli dengan nasib bangsa Palestina. Tapi naas, Raja dibunuh keponakannya sendiri tahun 1975.

Dilanjutkan oleh Raja Khalid yang kurang cakap, kekuasaan lebih didominasi oleh adiknya, Fahd. “…seorang playboy pro-Amerika” (hal 40)

Pada masa inilah seorang Juhaiman mendaftarkan diri menjadi pasukan Garda Nasional, pasukan khusus rezim yang dididik dengan pemahaman ortodok.

“Garda Nasional lahir untuk menjaga al-Saud dari kerusuhan Internal. …penyeimbang kekuatan militer reguler”

(hal 37)

Disamping itu juga menjadi murid Abdul Aziz bin Baz (saat itu Dekan Universitas Madinah).

Pemberontakan Kudeta Mekkah

===

Bahasan ini baru sampai di halaman 40, lembar-lembar selanjutnya di buku tentu lebih menarik: Bagaimana cara Juhaiman dan pengikutnya menduduki masjidil Haram? taktik apa yang digunakan oleh Raja untuk mendatangkan bala bantuan asing dari negeri kafir agar tidak ‘mengotori’ Mekkah?

Bagaimana sikap ulama terhadap pemberontakan ini?

Di akhir cerita Juhaiman dan pengikutnya dieksekusi.

Ada beberapa hal yang dapat kita tangkap dari cerita ini;
1. Rakyat Saudi yang tetap dibina dalam pemahaman ortodoks, berpeluang kontradiksi dengan kebijakan modernisasi kerajaan. Ini tentu menimbulkan bara api dalam sekam yang mudah meletup.

2. Untuk meminimalisir resiko, dilakukan pengawasan ketat terhadap warga negara dan cenderung represif, terutama pada kelompok yang anti-kerajaan

3. Latar belakang yang suram membuat warga negara hidup dalam ketakutan.

4. Amerika Serikat, penyanjung demokrasi dan HAM. Bak mati kutu di depan Saudi karena kerajaan ini masih loyal memberikan minyaknya.

Permasalahan Saudi ternyata sangat kompleks…

===

Judul Buku : KUDETA MEKKAH-Sejarah Yang Tak Terkuak
Pengarang : Yaroslav Trofimov
Penerbit : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan ke : 2 (saya memperoleh cetakan ke-1 Des 2007)
Tebal : 384 hal

Genghis Khun

Baca lebih lanjut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab
http://en.wikipedia.org/wiki/First_Saudi_State
http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Saud
http://en.wikipedia.org/wiki/Abdul_Aziz_bin_Muhammad_bin_Saud
http://en.wikipedia.org/wiki/Saud_bin_Abdul_Aziz_bin_Muhammad_bin_Saud

http://en.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Saud
http://en.wikipedia.org/wiki/Ottoman-Saudi_war
http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali_Pasha
http://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Pasha_of_Egypt
http://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Saud
http://en.wikipedia.org/wiki/Faisal_of_Saudi_Arabia
http://en.wikipedia.org/wiki/Juhayman_al-Otaybi, versi translate bahasa indonesia di http://translate.google.com/translate?hl=&sl=en&tl=id&u=http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FJuhayman_al-Otaybi
http://www.rumahallah.com/2012/12/kudeta-pemberontakan-masjidil-haram.html

Mei 19, 2013 - Posted by | Resensi | , , , , ,

4 Komentar »

  1. Sebuah fitnah yang cukup bombastis dan sistimatis, hasil copasan dari syiah laknatulloh. “Maling teriaK MALING” UNTUK MENJUNGKIRBALIKKAN FAKTA DI LAPANGAN!

    Genghis Khun:
    Salam kenal
    Bila referensi tsb di atas ternyata fitnah dan menjungkirbalikkan fakta dilapangan, silahkan berikan referensi yg benar. trims

    Komentar oleh t | November 1, 2013 | Balas

    • hati-hati kalo bicara, anda buat fitnah akan kembali kepada diri anda sendiri………. baca dan pelajari, apa betul demikian dan lihat referensinya, jangan asal bilang fitnah….fitnah…….🙂

      Genghis Khun:
      Salam kenal pak Preman Insyaf,
      Referensi sudah sangat jelas. Bila referensi fitnah Silahkan ajukan referensi dari anda yg bukan fitnah? trims

      Komentar oleh Preman Insyaf | November 6, 2013 | Balas

  2. SAUDI ARABIA = PEMIMPIN DUNIA ISLAM atau ANTEK AMERIKA?

    Rasa-rasanya tak ada negara yang
    lebih menarik untuk dikupas
    melebihi Saudi Arabia. Sederet frase
    mungkin langsung terbayang dalam
    benak kita begitu mendengar nama
    Saudi. Negeri kelahiran Rasulullah
    SAW, dua kota suci, Wahabi, minyak,
    dan sebagainya. Perspektif orang
    terhadap negara tersebut pun secara
    umum terbagi dalam dua kutub
    ekstrem. Mengagumi sedemikian
    rupa atau membenci sejadi-jadinya.

    Bagi yang mengagumi Saudi, negeri
    yang kini dinakhodai oleh Raja
    Abdullah tersebut selalu dilihat
    dalam kaca mata putih sebagai
    pelindung utama dakwah tauhid,
    negeri yang sukses mendistribusikan
    kemakmuran terhadap segenap
    rakyatnya, negeri yang sukses
    menegakkan keamanan di segenap
    penjuru wilayahnya, serta negeri
    yang konsisten dengan hukum Islam
    di tengah moderenitas.

    Sementara
    bagi para pembenci Saudi, negara
    tersebut selalu dilihat dengan kaca
    mata hitam sebagai negeri yang lahir
    dari satu ‘paham’ yang sering
    dibilang ‘keras dan intoleran’, antek
    Amerika, pengusung diktatorisme,
    pembela feodalisme, pengekang hak-
    hak wanita, serta kehidupan glamour
    sebagian elitnya.

    Namun justru adanya dua perspektif
    yang saling bertolak belakang itulah
    yang menyebabkan ‘pesona’ Saudi
    kian berbinar. Sejumlah karya
    kontroversi yang bertemakan Saudi
    selalu menggelitik untuk ditelisik.
    Sebut saja Dinasti Bush Dinasti
    Saud, The Girls of Riyadh hingga
    Kudeta Makkah. Meski sederet buku
    tersebut cenderung mendiskreditkan
    Saudi, namun di sisi lain adanya
    karya-karya semacam itu justru
    menunjukkan pengakuan banyak
    pihak akan eksistensi Saudi. Bahkan
    sejak lahirnya cikal bakal kerajaan
    Saudi Arabia lewat dakwah tauhid
    Syaikh Muhammad bin Abdul
    Wahhab dan Imam Muhammad Ibnu
    Su’ud, gemanya pun langsung berasa
    di berbagai negeri Muslim.

    Di tanah air, pengaruh langsung dari dakwah
    Syaikh Muhammad bin Abdul
    Wahhab menjelma dalam gerakan
    Paderi di tanah Minang.
    Biografi memukau Raja Abdul Aziz
    Ibnu Saud yang dibesarkan di
    pengasingan dalam kondisi penuh
    keterbatasan sebelum sukses
    mendirikan kerajaan Arab Saudi
    moderen, tak pelak menghadirkan
    kekaguman pula bagi Bung Karno.
    Dalam salah satu suratnya yang
    ditulis di Endeh dan ditujukan
    kepada Ustadz A. Hassan, Bung
    Karno menyatakan kekagumannya
    akan biografi Ibnu Saud dengan
    ungkapan, “Ia adalah
    menggambarkan kebesaran Ibnu
    Saud dan Wahabism begitu rupa,
    mengkobar-kobarkan element amal,
    perbuatan begitu rupa, hingga
    banyak kaum “tafakur” dan kaum
    pengeramat Husain c.s akan
    kehilangan akal nanti sama sekali.”

    Eksistensi Saudi di mata
    internasional semakin diakui kala
    Raja Faisal memimpin embargo
    minyak terhadap negara-negara
    Barat pendukung zionis yang
    mengakibatkan dunia industri di
    Eropa dan Amerika kalang kabut.

    Meski kini Saudi menerapkan politik
    kooperatif terhadap Amerika Serikat
    dan sekutunya, bukan berarti peran
    Saudi dipandang sebelah mata. Satu
    hal menarik ditulis Craig Unger
    dalam Dinasti Bush Dinasti Saud.
    Konon dua hari pasca tragedy 11
    September 2001, di saat seluruh lalu
    lintas udara Amerika Serikat ditutup,
    Gedung Putih tetap mengizinkan
    kepergian 140 penumpang pesawat
    yang kebanyakan warga Saudi dan
    saudara dekat Osamah bin Laden.
    Dalam analisis Craig, semua itu tak
    lepas dari kuatnya lobi duta Saudi
    terhadap pemerintah Amerika
    Serikat.

    Mencermati hubungan Amerika
    Serikat-Saudi Arabia memang sangat
    menarik bila dikaitkan dengan latar
    belakang kedua negara yang saling
    bertolak belakang. Amerika Serikat
    adalah satu negara sekuler yang
    begitu mendewakan kebebasan
    dalam segala bidang, sementara
    Saudi merupakan negara yang sangat
    menjunjung tinggi nilai-nilai
    ‘puritanisme’ dalam Islam. Amerika
    merupakan negara pendukung utama
    rezim zionis Yahudi, sedangkan
    Saudi tidak pernah mengakui
    eksistensi pemerintahan Yahudi di
    Palestina.

    Politik luar negeri Saudi yang bagi
    banyak orang terlihat kontradiktif
    dengan ideologi negara yang
    dianutnya, tak pelak memantik minat
    banyak pengamat untuk melontarkan
    sejumlah teori. Secara umum, teori
    tersebut menyebutkan bahwa
    kedekatan hubungan Saudi-AS
    semata-mata didasari atas simbiosis
    mutualisme antara kedua negara. AS
    yang merupakan negara konsumen
    minyak terbesar dunia membutuhkan
    limpahan suplai minyak dari Saudi,
    sementara Saudi membutuhkan
    peralatan militer dari AS guna
    menjaga kedaulatan wilayahnya.
    Apapun itu, identitas Saudi sebagai
    negara ‘Wahabi’ di satu sisi dan
    sebagai negara yang kerap diberikan
    stigma sekutu Amerika di sisi lain,
    menyebabkannya dimusuhi oleh
    beberapa kelompok yang sejatinya
    satu sama lain pun saling
    mengusung ideologi bertolak
    belakang. Beberapa kelompok
    dimaksud antara lain adalah
    kalangan liberal, Syi’ah, Al-Qaeda,
    dan tradisionalis.
    Di mata kaum liberal, Saudi yang
    konsisten menegakkan hukum Islam
    di segenap lini merupakan ancaman
    nyata bagi proyek mereka yang
    mengusung kampanye “hukum Islam
    tak lagi relevan saat ini.” Tegaknya
    Islam di Saudi yang berefek pada
    pemerataan kemakmuran terhadap
    segenap rakyatnya merupakan satu
    bukti bahwa seluruh hukum yang
    termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-
    Sunnah tetap relevan sampai
    kapanpun.
    Bagi kalangan Syi’ah, Saudi dianggap
    sebagai batu sandungan utama
    dalam menyebarkan aliran
    menyimpang tersebut ke segenap
    penjuru dunia. Bahkan Saudi turut
    menggagalkan secara langsung
    revolusi Syi’ah di Bahrain dengan
    mengirimkan pasukan militer untuk
    melindungi pemerintah Sunni di
    negeri tersebut. Maka untuk
    menggaet simpati kaum Muslimin
    secara umum, orang-orang Syi’ah
    menyebarkan propaganda dengan
    membuat kebohongan bahwa
    Republik “Syi’ah” Iran merupakan
    negara yang berada di garda
    terdepan dalam menentang Amerika
    dan Israel. Namun faktanya, Iran
    yang dituding mengembangkan
    senjata nuklir tidak pernah sekalipun
    terlibat peperangan terbuka dengan
    Amerika maupun Israel.
    Sedangkan di mata kelompok Al-
    Qaeda dan para pengusung ‘Islam
    radikal’, Saudi dianggap sebagai
    negara kafir lantaran sikap
    kooperatifnya dengan Amerika. Hal
    itu sebagaimana dinyatakan oleh
    Osama bin Laden yang menegaskan
    bahwa Saudi tidak layak disebut
    negara Islam karena dinilai sebagai
    antek Amerika. Konsekuensi dari
    stigma kafir terhadap pemerintah
    Saudi oleh Al-Qaeda, berimplikasi
    pada meletusnya teror bom Riyadh
    2004.
    Dan dalam pandangan kaum
    tradisionalis yang
    mencampuradukkan ajaran Islam
    dengan budaya lokal, eksistensi
    Saudi dianggap sebagai musuh
    karena merupakan pendukung utama
    dakwah pemurnian Islam. Setiap
    tahunnya pemerintah Saudi
    memberikan beasiswa kepada ribuan
    pelajar dari segala penjuru dunia
    untuk menimba ilmu di negeri
    tersebut. Sepulang dari Saudi,
    mereka yang lulus dari universitas
    Islam di negara itu menjadi penyeru
    dakwah tauhid yang mementang
    segala praktek bid’ah dan
    kemusyrikan. Saudi juga memiliki
    sejumlah Perguruan Tinggi Islam di
    berbagai negeri Muslim, seperti
    LIPIA di Indonesia dengan misi
    utama menebarkan dakwah tauhid.
    Maka tak heran, kaum tradisionalis
    yang praktek beragamanya masih
    lekat dengan kemusyrikan selalu
    menempatkan Saudi sebagai negara
    yang dimusuhi.
    Menariknya, keempat kelompok di
    atas kerapkali menggunakan isu
    kedekatan Saudi dan Amerika
    sebagai senjata untuk
    mendiskreditkan negeri kerajaan
    tersebut. Satu pemandangan aneh,
    kalangan liberal dan tradisionalis
    merupakan kelompok yang paling
    alergi terhadap segala teori
    konspirasi Yahudi yang dilontarkan
    oleh kalangan ‘Islam
    pergerakan’ (baik Hizbut Tahrir, PKS,
    maupun Ikhwanul Muslimin). Namun
    bila konspirasi Yahudi itu
    menyangkut ‘hubungan rahasia
    Israel-Saudi’, mereka berada di garda
    terdepan dalam menyebarkan isu
    tersebut ke tengah umat.
    Mencermati kebijakan luar negeri
    Saudi, sejatinya tidak melulu soal
    poros Riyadh-Washington. Ada
    banyak kebijakan luar negeri Saudi
    yang berdampak positif bagi
    solidaritas sesama Muslim. Di
    samping besarnya peran Saudi
    dalam bidang pendidikan, lewat
    kebijakan pemberian beasiswa besar-
    besaran kepada para pelajar Muslim
    untuk melanjutkan studi ke negeri
    tersebut serta pendirian universitas-
    universitas Islam di mancanegara
    maupun sumbangan dana kepada
    yayasan yang menaungi dakwah di
    berbagai penjuru dunia, Saudi
    merupakan satu-satunya negara di
    dunia yang sudah sejak lama
    membuka pintu lebar-lebar kepada
    para pengungsi Rohingya. Bila
    kehidupan warga Muslim Rohingya di
    negara asalnya sangat
    memprihatinkan akibat kebijakan
    represif penguasa Buddhist, serta
    yang mengungsi ke negara lain pun
    nasibnya terkatung-katung, tidak
    demikian dengan warga Muslim
    Rohingya di Saudi. Semenjak Raja
    Abdul Aziz menawari perlindungan
    keamanan kepada pengungsi
    Rohingya di negaranya tahun 1968,
    saat ini terdapat ratusan ribu umat
    Muslim Rohingya yang tinggal di
    negeri kelahiran Nabi SAW itu.
    Bahkan pada Maret lalu, pemerintah
    Saudi memberikan status
    kewarganegaraan kepada 250 ribu
    Muslim Rohingya. Itu artinya kini
    mereka berhak atas fasilitas
    kesehatan, pendidikan, dan hak
    mendapatkan pekerjaan yang setara
    dengan penduduk lokal. “Dunia baru
    menyadari penderitaan Rohingya di
    Burma kurang dari setahun lalu.
    Tapi Arab Saudi adalah negara satu-
    satunya yang peduli penderitaan
    mereka sejak lama,” kata Abdullah
    Marouf, sekretaris jenderal
    komunitas Burma dan kepala Global
    Rohingya Center di Jeddah, dilansir
    Arab News (selengkapnya lihat di
    sini).
    Tak hanya terhadap Muslim Rohingya
    pemerintah Saudi memberikan
    uluran tangan. Tatkala terjadi
    tsunami Aceh penghujung tahun
    2004, pemerintah dan rakyat Saudi
    juga menyumbang US$ 30 juta (Rp
    4,8 triliun), di mana semua
    sumbangan itu berbentuk hibah. Di
    kesempatan lain, pasca terjadinya
    serangan udara secara ofensif
    pasukan zionis terhadap jalur Gaza
    selama beberapa pekan di awal
    tahun 2009, pemerintah dan rakyat
    Arab Saudi juga memberikan
    bantuan senilai 1 miliar dollar untuk
    rehabilitasi kota Gaza. Sayangnya,
    besarnya sumbangan Saudi kepada
    dunia Islam memang jarang
    terekspose media lantaran berita
    yang semacam itu dianggap ‘kurang
    menjual’.
    Dengan demikian, semenjak lahirnya
    cikal bakal kerajaan Arab Saudi
    hingga hari ini, tak ada yang
    mengingkari bahwa Saudi merupakan
    negara yang paling berpengaruh
    terhadap dunia Islam.
    Berkembangnya seruan revivalisasi
    (pemurnian) Islam yang bergema di
    berbagai negeri Muslim, termasuk
    Indonesia belakangan ini, tak lepas
    dari peran Saudi Arabia. Meskipun
    bagi sebagian kalangan ‘Islam
    pergerakan’, eksistensi Saudi kerap
    diabaikan lantaran hubungan
    diplomatiknya dengan Amerika,
    namun sumbangan Saudi dalam
    bidang sosial dan pendidikan
    terhadap dunia Islam tetap tak
    terbantahkan. Terkait hal ini, satu
    catatan yang seharusnya diingat oleh
    kelompok-kelompok ‘pejuang khilafah’
    adalah, tatkala kondisi umat Islam
    tengah tercerai-berai bak buih di
    lautan, maka mendahulukan
    konsolidasi antara sesama negeri
    Muslim jauh lebih utama ketimbang
    sikap-sikap konfrotatif terhadap
    Amerika dan sekutunya!

    Genghis Khun:
    Salam kenal….
    Bantuan2 Saudi patut di apresiasi, namun ketika tidak ada upaya serius untuk solusi penjajahan Israel atas Palestina, maka sebaiknya perlu difikirkan pergantian dinasti.

    Komentar oleh t | November 1, 2013 | Balas

  3. Kayaknye perlu ditelaah juga nih, apalagi yang menyusun adalah bukan orang Indonesia, apakah ini benar atau tidak……

    Genghis Khun:
    Salam kenal pak Preman Insyaf
    Betul. Jangan langsung ditelan bulat2, semua hal harus ditelaah dan di analisa🙂

    Komentar oleh Preman Insyaf | November 6, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: