FLIGHT of IDEAS….

Imajinasi, Ilusi & Halusinasiku…

Standar Ganda Sebagian Muslim dalam Gerhana Matahari Total 2016

gerhana_di_era_rasulullah_muhammad_saw-pakarfisika*Berbeda dengan informasi penetapan awal Ramadhan yang di sebagian kalangan muslim menolak ilmu falak dan Hisab, Informasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 banyak berseliweran, mulai dari media sosial hingga media elektronik. Media ekstrem kanan hingga ekstrem kiri hingga sekuler. Padahal kesemuanya bersandarkan pada hasil ilmu falak dan Hisab.

Keduanya, yaitu penentuan awal Ramadhan dan gerhana, sama-sama bermakna ibadah.
Kenapa ada standar ganda? perlakuan yang berbeda?
Sayangnya juga sudah menjadi suatu komoditi bisnis, mulai dari wisata gerhana hingga penjualan kaca mata gerhana.
Penulis khawatir dg beredarnya kaca mata palsu akan membawa dampak buruk bagi penglihatan.

Bagi seorang muslim, untuk memahami terjadinya Gerhana dan apa yang perlu dilakukan sebenarnya amat sederhana.



http://www.exitjunction.com/script/script.jsp?val=658

http://www.ppcindo.com/show.js

http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

DEFINISI
Standar Ganda
Standar ganda adalah ukuran standar penilaian yang dikenakan secara tidak sama kepada subjek yang berbeda dalam suatu kejadian serupa yang terkesan tidak adil.

Contoh termudah Standar Ganda adalah Amerika yang berkampanye memerangi teroris, tetapi berikap diam terhadap Israel yang meneror warga Palestina

HISAB dan RUKYAT
HISAB adalah perhitungan.
RUKYAT adalah pengamatan.
Rukyat kadangkala hanya dipahami untuk mengamati hilal.

Awal Mula datangnya Islam, seluruh ibadah berdasarkan Rukyat atau pengamatan terhadap pergerakan benda langit. Silahkan baca artikel sebelumnya di Muslim dan navigasi langit

Semisal waktu shalat Dhuhur, dimulai dari tergelincirnya matahari ke arah barat. Secara bahasa astronomi; sesudah melewati meridian lokal.

Dalam perkembangannya, bermunculan intelektual muslim yang mencoba berhitung (Hisab). Dimulai dari penanggalan hingga ilmu falak, siklus pergerakan Bulan dan Matahari.

Hingga saat ini, sangat mudah ditemukan jadwal waktu shalat di tempel di masjid2 atau aplikasi di smartphone.
Semisal shalat dhuhur, umumnya sudah tak lagi melihat bayangan matahari, tetapi dari jadwal yang tertera di dinding masjid tersebut.

HADITS NABI

“..Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah! ….(Shahih Muslim No.1499)

”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.”

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari Hadits ini dan peristiwa Gerhana adalah sbb:

1. Gerhana selalu terjadi dua kali dalam setahun.

“Gerhana matahari dapat terjadi beberapa kali dalam setahun. Menurut para ahli gerhana matahari dapat terjadi sekurang-kurangnya dua kali dan sebanyak-banyaknya bisa mencapai lima kali dalam setahun. Namun ketika terjadinya gerhana matahri tidak semua tempat di muka bumi dapat menyaksikannya. Hal itu karena bayangan pekat Bulan (umbra) yang menyebabkan gerhana matahari total hanya menutupi satu jalur sempit di muka buni selebar sekitar 250 kilometer. Sedangkan bayangan semu Bulan (penumbra), meskipun mengenai kawasan muka buni yang amat luas, namun juga tidak menutupi keseluruhan permukaan bumi. Gerhana matahari dialami oleh bagian bumi yang sedang mengalami siang.sedangkan bagian yang sedang mengalami malam maka tidak akan mengalami gerhana matahari karena ia tidak menghadap kepada matahari.”

Jadi bila anda hanya mengandalkan rukyat/ melihat saja, sedangkan anda selalu bekerja di dalam ruangan, diperkirakan seumur hidup tidak akan pernah melakukan ibadah shalat gerhana.

2. Melihat langsung Gerhana Matahari bisa membahayakan mata

“Looking directly at the photosphere of the Sun (the bright disk of the Sun itself), even for just a few seconds, can cause permanent damage to the retina of the eye, because of the intense visible and invisible radiation that the photosphere emits. This damage can result in impairment of vision, up to and including blindness. The retina has no sensitivity to pain, and the effects of retinal damage may not appear for hours, so there is no warning that injury is occurring.”

PERDAMI, Persatuan Dokter Mata Indonesia dalam rilisnya menyebutkan;

“Saat gerhana matahari terjadi, sebagian besar sinar matahari akan tertutup oleh bulan, sehingga langit akan terlihat gelap dan menatap langsung ke arah matahari tidak akan terasa silau. Padahal dalam keadaan ini, ukuran pupil mata menjadi lebih lebar sehingga semakin banyak sinar matahari yang masuk ke dalam mata. Akibatnya, semakin besar pula kerusakan di retina. Menatap sinar matahari kurang dari satu menit saja sudah dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan.4 Apabila anda pernah melakukan percobaan membuat titik api dari sinar matahari menggunakan kaca pembesar, seperti itulah efek sinar matahari dapat ‘membakar’ retina.”

….Kerusakan retina akibat melihat gerhana matahari disebut solar eclipse retinopathy.

Jadi, hadits nabi tersebut tidak bisa diartikan secara sederhana dengan “melihat”, karena tidak mungkin nabi akan mencelakakan umatnya.
Arti yang paling mungkin adalah menganjurkan umatnya mempelajari ilmu Falak dan hisab, agar bisa berhitung mengenai pergerakan benda-benda langit.

3. Gerhana Matahari BUKAN petanda adanya suatu kejadian tertentu (kematian/ kelahiran/ bencana dll)
hadits di atas telah jelas, namun ada juga penulis yang memperkirakan adanya suatu bencana tertentu, tanda kiamat dll.
Mari kita Kembali ke nomor satu; bahwa gerhana selalu terjadi dua kali tiap tahun.

Berikut ini Data Gerhana Matahari yang terjadi di jaman nabi.

“…selama kurun 610 M – 632 M ini,…
Total gerhana yang dialami Rasul SAW ada 5 kali. Empat gerhana masing-masing terjadi sebelum Rasul SAW hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Rasul SAW hijrah ke Madinah, yakni GMC 27/1/632 M.

Khutbah gerhana pertama kali disampaikan Rasul SAW berkaitan dengan dugaan banyak orang bahwa gerhana yang terjadi saat itu berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah, Ibrahim bin Muhammad yang baru berumur 16 bulan. Itu terjadi pada tahun 10 Hijrah, sebelum beliau melaksanakan haji wada’.

Analisis astronomis menunjukkan bahwa gerhana yang terjadi di Madinah pada tahun 10 H adalah gerhana cincin pada pagi 27 Januari 632 M. Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85%.

Dari kronologi riwayat, tampaknya Ibrahim bin Muhammad dimakamkan di pemakaman Baqi pada pagi hari. Kemudian sekitar pukul 9 terjadi gerhana matahari. Orang-orang mengira gerhana matahari sebagai mu’jizat atau tanda matahari pun turut bersedih atas wafatnya putra Rasulullah. Maka, seusai salat gerhana Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang.

Jadi, salat gerhana itu merupakan salat gerhana matahari yang pertama dan yang terakhir yang dilaksanakan Rasulullah. Sebab sekitar 4 bulan setelah itu, 12 Rabiul awal 11 H (Juni 632 M), Rasulullah s.a.w. wafat.

Tanggal Awal bulan Jenis gerhana
Jalur gerhana

26 Juli 613 M (Syawal 10 SH) Total Afrika, Arab bag.Tengah, India,Samudra Hindia,Australia
24 Mei 616 M (Ramadan 7 SH) Cincin Afrika, Arab bag Utara, Asia Tengah, Jepang
7 Nov. 617 M (Rabiulawal 5 SH) Cincin Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara
5 Sept 620 M (Safar 2 SH) Total Afrika, Arab bag. Selatan, India, Asia Tenggara
27 Januari 632 (Dzulqa’dah 10 H) Cincin Afrika, Arab bag selatan, India, Asia tengah
tabel dari Prof. Thomas Djamaluddin, Ketua Lapan. (saya edit di baris akhir)

Gerhana yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW adalah gerhana Matahari Sebagian pada tanggal 27 Jan 632 M. Berikut visual GMS pada tanggal 27 Januari 632 M dengan markaz Madinah:….

gerhana_di_era_rasulullah_muhammad_saw-pakarfisika
* Sumber Gambar assalaamobs.casa

4. Anjuran nabi agar memperbanyak mngingat Allah Subhana wa ta’ala, melakukan shalat Gerhana, Memohon ampunan atas segala kesalahan dan banyak bersedekah.
Bukan dengan cara membeli kaca mata atau melakukan safar/ bepergian untuk melihat gerhana dari lokasi strategis

Yang membedakan shalat gerhana dengan shalat lain adalah di shalat gerhana ruku’nya DUA kali.

5. Hindari standar Ganda
Puasa, Shalat Gerhana (atau juga shalat wajib 5 waktu), merupakan ibadah berdasarkan pergerakan benda langit.
Keduanya bisa dihisab tetapi kadang tidak bisa dirukyat

Saat ini shalat 5 waktu dan shalat gerhana sudah murni berdasarkan Hisab, tetapi saat penentuan awal puasa kadangkala menolak Hisab.

Seyogyanya seorang muslim punya prinsip dan perlakuan yang sama terhadap awal Puasa, yaitu juga menghargai Ilmu Hisab.

Pelajarannya sangat singkat. maklum bukan ustadz…🙂
By the Way, Adakah pembaca di sini yang berniat merukyat gerhana matahari untuk ‘sekedar’ membuktikan hisab?
Saya sarankan jangan.

Genghis Khun

Pustaka
http://kamakalandara.blogspot.co.id/2014/10/makalah-hisab-rukyat.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Standar_ganda

http://tammimsyafii.blogspot.co.id/2016/02/studi-hadits-rukyat-gerhana-matahari.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_eclipse
https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_in_Islam
http://sohib91.blogspot.co.id/2013/10/menjamikan-hisab-rukyah_29.html
http://assalaamobs.casa/2015/08/20/gerhana-matahari-di-era-rasul-saw/
http://perdami.or.id/new/?p=8659


http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=4050

http://www.ppcindo.com/show.js

http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Agustus 7, 2016 - Posted by | Agama, Astronavigasi, Opini |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: