Menelusuri Proses Penulisan Kitab Ajaran Buddha, Jain dan Ajivika

Melanjutkan Tulisan sebelumnya yaitu SEJARAH PENULISAN KITAB SUCI; PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU dan AL QURAN

Kali ini kita akan membahas perkembangan Kitab Suci Buddha, Jain dan Ajivika di masa pengaruh Hindu

Tokoh
Buddha
Mahavira
Makkali Ghozala
Devadatta
Ajata
Ashoka

Periode Veda Akhir
1100-600 SM – Di sekitar Indo-Gangga, mulai beredar naskah Veda yang DIDUGA merupakan tulisan Dewa Brahma.
Saat itu dalam hubungan sosial masyarakat terbagi menjadi 4 Varna (kelas/ kasta) yaitu, Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra yang diputuskan berdasarkan kelahiran.

Kisah terfokus ke wilayah Kerajaan Magadha (Bangladesh dan Nepal sekarang)

Brahmana dan Kshatriya, dua Varna yang mendominasi pada saat itu bersaing untuk mendapatkan supremasi.
Kelak Buddha Gautama dan Mahavira Jain menantang hegemoni para Brahmana.
Terlebih Brahmana mulai banyak melakukan ritual berdasarkan takhyul.
Teks-teks Veda seperti Satapatha Brahmana menjelekkan penduduk Magadha sebagai wilayah iblis karena minimnya Brahmana

Sedangkan di Magadha sendiri kala itu mulai terpengauh oleh ajaran Parshvanatha yang disegani sebagai tirthankara (Sang penyelamat) ke-23

Buddha dan Jain, setelah mendapatkan pencerahan di bawah pohon, kelak bertutur dalam bahasa kelas bawah, yaitu Prakrit dan Pali, untuk mengesampingkan bahasa bahasa Sanskerta yang terbatas untuk kelas Brahmana dan Khsatriya.

Walaupun tetap mengenal Dewa, namun keyakinan Buddha dan Jain menonjolkan pada;
– Menolak Weda/ Hindu, Brahmana dan ritual-ritual takhyulnya
– Ada Dewa yang mengatur Alam Semesta (?) namun tidak ikut andil dalam mengatur kehidupan manusia.
– Menolak Kasta
– Mengenal Karma
– Reinkarnasi; Manusia akan tetap mengembara dalam kehidupan dunia (Samsara). Untuk memutus lingkaran siklus kematian – kelahiran kembali ini dengan cara budi pekerti yang baik
– Menghindari kekerasan baik kepada hewan/ manusia; Tidak menyakiti, cinta kasih dan welas asih

Mari kita ikuti kisah sesuai kronologisnya;
Tahun SM – Sebelum Masehi berlaku Mundur.
Tahun M – Masehi, berlaku maju.

599 SM – Kelahiran Mahavira (599–527 SM), pembawa ajaran Jain
563 SM – Masa Kelahiran Siddhattha Gotama (563-483 SM), kelak bergelar Buddha, Tathagata atau Shakyamuni
560 SM – Masa kelahiran Makkali Ghozala, pembawa Ajivika dari kasta rendah (Waisya/ Sudra), ada yang menyebutkan dari kalangan budak.

Mereka lahir di wilayah Magadha masa pemerintahan Bimbisara (543–491 SM) dan keduanya sama-sama mencari pencerahan di bawah pohon.

====
Catatan;
Kisah Siddhatta Gotama hingga terwujudnya sebuah Kitab Suci sangat mirip dengan kisah munculnya Islam;
– Ajarannya dihafal oleh murid-muridnya terlebih dahulu, lalu dibukukan oleh tim dalam suatu pengawasan otoritas seorang murid. Jika dalam Islam yang dihafalkan semacam syair/ lagu, namun ucapan Buddha mirip sebuah tatanan/ undang-undang.
– Sedangkan Kisah hidup Buddha (Biografi), baru ditulis jauh sesudah Buddha meninggal; yaitu awal Masehi, 500 tahun setelah kehidupan Sang Buddha.

(Bayangkan saja anda hendak menulis kisah kelahiran Kertawijaya Raja Majapahit, maka akan sulit bagi kita untuk memilah, mana kisah asli atau kisah fiktif)

Kisah kelahiran Sang Buddha digambarkan sebagai berikut;

“…gajah putih yang membawa sekuntum teratai di belalainya yang berkilau, mengelilinginya 3x searah jarum jam, lalu memasuki kandungannya dari sisi kanan tubuhnya lalu gajah itupun menghilang. Sang ratu terjaga dari tidurnya dan saat itu terjadi gempa bumi dengan 32 fenomena tidak lazim.(“Buddha carita” sekitar tahun 2 M).

“..empat dewa muda dari empat penjuru datang melindunginya ..
Ibunya melahirkan dalam posisi berdiri.
Sang Bodhisatta ketika keluar dari rahim ibunya tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda menyambut dan meletakannya di depan sang ibu:”

Dalam perjalanannya; Sang Buddha mengutuk sistem kasta dari kelahiran yang dianggapnya tidak adil.
Kasta akan diperoleh dari budi pekerti.

Sang Buddha berkata:

Dengan kelahiran seseorang bukanlah sebuah kekecewaan,
Dengan kelahiran seseorang bukanlah seorang Brahmana;
Hanya dengan perbuatan, seseorang adalah pelampiasan,
Dengan perbuatan saja seseorang adalah seorang Brahmana

559 SM – Lahirnya Bimbisara, putra Mahkota Magadha

534 SM – Makkhali Gosala, murid Buddha dan Mahavira, mulai mengajarkan Ajivika.
Pasenadi naik tahta menjadi Raja Kosala.
Pasenadi berusia sebaya Sang Buddha, Bimbisara lebih muda 5 tahun dari sang Buddha.

527 SM – Mahavira pembawa Jain meninggal, tapi ada yang menyebutkan tahun 491 SM

Versi Buddha menceritakan bahwa Raja Bimbisara bertemu Buddha untuk pertama kalinya sebelum pencerahan Buddha, dan kemudian menjadi murid penting yang menonjol. Dia tercatat memiliki mencapai sotapannahood, tingkat pencerahan dalam ajaran Buddha.

Namun versi Jain juga menyebutkan bahwa Bimbisara mengikuti ajaran Mahavira (Jainisme)

Raja Bimbisara menyumbangkan Taman Veluvana sebagai vihara dan tempat tinggal pertama Sang Buddha dan para muridnya, Bhikkhu.
Tak lama kemudian salah satu murid Buddha/ Bhikku bernama Devadatta membuat ulah di Kerajaan.

493-492 Sm – Ajatashatru, Putra Bimbisara, atas intrik Bhikku Devadatta, memenjarakan ayahnya sampa mati lalu menduduki di tahta Magadha (492-460 SM)

“Bimbisara wafat (di usia 67 tahun) ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu)”

(Wirajhana Eka)

Menurut kitab Jain, Bimbisara bunuh diri setelah putranya memenjarakannya.
Kisah ini difilmkan dengan Judul “Maharaja Ajasath”

491 SM – Ajatashatru juga tertarik untuk menemui Buddha (Sumber; Samannaphala Sutta)
Tahun ini meninggalnya Mahavira pendiri jain (versi pertama tahun 527 SM).

Kelompok Buddha mengatakan bahwa Ajatashatru pemeluk Buddha, sedangkan kelompok Jain juga mengklaimnya.

485 SM – Ajatashatru berperang melawan Kosala
Sang Buddha yang mulai uzur, mulai berkonflik dengan Devadhatta yang sakit hati karena dihina oleh Buddha saat meminta ijin mengambl alih kepemimpinan Bhikku;

“Aku tidak dapat menyerahkan kumpulan para bhikkhu ini bahkan kepada Sāriputta dan Moggallāna. Bagaimana mungkin Aku menyerahkannya kepadamu, seorang malang yang untuk dimuntahkan bagai ludah?”

Devadatta tersinggung dengan celaan dan penolakan yang disampaikan di hadapan kumpulan dan Raja,

Devadatta ini merupakan sepupu dan teman bermain Buddha sejak kecil.
Devadatta lalu berkomplot dengan Ajatashatru mencoba membunuh Buddha

484 SM – Kematian Makkali Gosala (berdasarkan Mahavamsa).
Kematian Devadatta yang tidak pernah berhasil mencelakai Sang Buddha.
Dikatakan;

“Setelah menderita sakit selama 9 bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah. Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi.

Menurut Kepercayaan; Setelah kematiannya, Devadatta terlahir di Neraka Avici.
Setelah penderitaan di neraka Avici selama 100.000 Kalpa, Devadatta akan terlahir kembali dan menjadi Pacceka Buddha dengan nama Atthissara.

483 SM – Buddha meninggal pada usia 80 tahun (‘mencapai parinibbana’) setelah sakit parah gara-gara memakan makanan persembahan dari Cunda, seorang pandai besi,

Menurut Theravada, makanan tersebut adalah daging babi.
Menurut Mahayana; sejenis jamur.
Menurut von Hinüber; Buddha wafat karena infark mesenterika, gejala usia tua, bukan keracunan makanan.

Jenazah Buddha kemudian dikremasi dan jenazahnya, termasuk tulang-tulangnya, disimpan sebagai relik dan dibagikan ke berbagai kerajaan India utara seperti Magadha, Shakya dan Koliya

Masa ini bertepatan dengan terjadinya perang antara Ajatashatru melawan Licchavi dari Vajji.

SIDANG PERTAMA
Setelah 3 bulan kematian Buddha, atas dukungan Raja Ajatasattu (492-460 SM), diadakan Sidang Agung Sangha (Konsili 1 Buddha) di Gua Sattapanni dekat Rajagaha, dipimpin oleh Ya (Yang Ariya) Maha Kassapa Thera.
Sidang ini untuk mengumpulkan Ajaran Sang Buddha dijadikan dua Kitab;

Kitab 1. Sutta Pitaka; kumpulan “BuddhaDhamma’: doktrin.
Kitab 2. Vinaya Pitaka: kumpulan”BuddhaVinaya: peraturan.

484–480 SM Ajatashatru berperang melawan Vesali/ Vaishali
460 SM – Kisah kematian Ajatashatru (ada yang menyebut tahun 535 SM).
Versi Teks Buddha; Ajatashatru dibunuh secara brutal oleh putranya sendiri, Udayabhadra/ Udayabhaddaka.
Ajatashatru terlahir kembali di neraka yang disebut “Lohakumbhiya”.

Versi Teks Jain;
Dikutuk menjadi abu di Gua Timisra oleh wali Deva. Ajatashatru kemudian terlahir kembali di neraka keenam yang disebut Tamahprabhā

Si Pangeran durhaka pembunuh ayahnya, Udayabhaddaka, naik tahta lalu memindahkan ibukota kerajaan ke Pataligama.

Kelak Putra Udayabhaddaka, Mahamundika, juga membunuh ayahnya agar menjadi raja.
putra Mahamundika, Anuruddha, juga membunuh ayahnya;
putra Anuruddha, Nagadasa, juga membunuh ayahnya.

SIDANG KEDUA
383 SM – Satu abad setelah Budhha, diadakan Konsili II pengikut Buddha di Visali, dipimpin oleh ya Revata atas dukungan Raja Kalasoka.
Agendanya; dikarenakan ada pro-kontra mengenai aturan ekstrim pada isi Kitab Vinaya.

Diakhir sidang; pengikut Buddha terbelah;
– Sthaviravada (Sthavira atau Theravãda); yaitu memegang teguh kemurnian Dhamma – Vinaya asli.
– Mahasanghika; yaitu kelompok pengubah Vinaya (pro-modifikasi; cikal bakal Buddha Mahayana)

Dari keduanya ini, akan terbelah lagi menjadi banyak aliran.

Kelompok pemelihara Vinaya asli (Staviravada) kelak mengesahkan Kanon Pali (Tipitaka) ke-3 yaitu Abhidhamma Pali.
(Kanon Abhidhamma Pali tidak diakui di luar sekte Theravada)

345 SM – Tahta Magadha dirampas oleh Mahapadma Nanda, pendiri Dinasti Nanda (345–321 SM),

326 SM – Tentara Alexander mendekati perbatasan barat Magadha.
321 SM – Chandragupta Maurya, pengikut Jain, merebut kerajaan Nanda dan mendirikan dinasti/ kekaisaran Maurya (Moriya).
perebutan kekuasaan ini terjadi karena intrik dan pengkhianatan seorang Brahmana Chanakya dari Istana Nanad.

Dikisahkan;

“Chanakya mempunyai dua calon unggulan untuk merebut kekuasaan; Pabbata, dan Chandragupta, keduanya mantan keluarga kerajaan.

Untuk mengujinya, dia memberi mereka masing-masing jimat untuk dikenakan di leher dengan benang wol. Suatu hari, ketika Chandragupta tertidur, dia meminta Pabbata untuk melepaskan benang wol Chandragupta tanpa memutusnya dan tanpa membangunkan Chandragupta. Pabbata gagal menyelesaikan tugas ini.

Beberapa waktu kemudian, saat Pabbata sedang tidur, Chanakya menantang Chandragupta untuk menyelesaikan tugas yang sama. Chandragupta segera memotong kepala Pabbata untuk mengambil benang wol….

297 SM – Bindusara anak Chandragupta Maurya naik tahta. Memulai masa perkembangan Ajivika; yaitu sekte pertapa telanjang pengembara yang percaya pada karma, fatalisme, dan kepasifan ekstrem.

270 SM – Bindusara (anak dari Chandragupta Maurya), memilih menganut ajaran Ajivika, namun anaknya, yaitu Ashoka menganut Buddha-Theravada.

265-268 SM – Ashoka anak Bindusara naik tahta (268-232 SM), penganut Buddha.
Versi Buddha; menampilkannya sebagai raja yang agung dan ideal.
Namun sejarah menyebutkan bahwa Raja Ashoka memerintahkan untuk membunuh seluruh pengikut sekte Ajivika (Sumber Teks Ashokavadana)

260 SM – Ashoka memerangi Kalinga (Odisha modern), mengakibatkan lebih dari 100.000 kematian dan 150.000 deportasi.

255 SM – Ashoka mengutus putranya, Y.M. Thera Mahinda dan kemudian putrinya, Y.M. Theri Saṅghamittā ke Sri Lanka.
Devanampiya Tissa, Raja dari Anuradhapura di Sri Lanka, beralih keyakinan memeluk Buddhisme.

Menurut Mahavamsa, para misionaris tiba pada 255 SM, tetapi menurut Dekrit 13 (DEKRIT ASHOKA), itu terjadi lima tahun sebelumnya pada 260 SM.
Ashoka juga membangun Pilar Prasasti Lumbini

SIDANG KETIGA – PERESMIAN KITAB SUCI – 218 tahun sesudah Buddha
248 SM – Tahun ke-17 pemerintahan Ashoka, diadakan Sidang Agung Ketiga di Vihara Asokārāma di Pāṭaliputta/ Pāṭaliputra .

Sidang/ Persamuhan diketuai oleh Y.M. Bhikkhu Tissa Moggaliputta.
Agenda:
– Menyempurnakan Kitab Suci Pali
– Kewajiban upacara Uposatha per bulan

Kitab Suci terbut sbb:
I. VINAYA Pitaka
peraturan-peraturan muncul ketika Buddha menjumpai permasalahan perilaku atau perselisihan antara para pengikutnya. Pitaka ini dapat dibagi menjadi tiga bagian:
– Suttavibhanga (-vibhaṅga) Komentar akan Patimokkha,
– Khandhaka
– Parivara (parivāra) .

II. SUTTA Pitaka
“keranjang untaian”, “ucapan baik”; berisi pengajaran Buddha.
Sutta Pitaka memiliki 5 bagian, disebut sebagai AGAMA atau NIKAYA:
– Digha Nikaya (dīghanikāya, DN) pengenalan doktrin
– Majjhima Nikaya (MN) – doktrin untuk pemeluk baru.
– Samyutta Nikaya (saṃyutta-) aturan terperinci.
– Anguttara Nikaya (aṅguttara-) aturan untuk masyarakat umum/ awam.
– Khuddaka Nikaya prosa/ ayat-ayat lainnya.(Versi asli dari Dhammapada ada di Kitab ini)

Catatan;
Salah satu isi Khuddaka Nikaya menceritakan bahwa Siddhattha Gotama merupakan salah satu dari Buddha yang TELAH dan AKAN muncul ke dunia.

Menurut tradisi Buddha, masa kalpa kuno terdapat puluhan Buddha .

Masa Vyuha Kalpa
1. Vipassī (hidup 91 kalpa yang lalu)
2. Sikhī (hidup 31 kalpa yang lalu)
3. Vessabhū (hidup 31 kalpa yang lalu di kalpa yang sama dengan Sikhī)

Kalpa saat ini (bhadrakalpa)
1. Kakusandha
2. Koṇāgamana
3. Kassapa
4. Gautama
5. Maitreya/ Ajita (Buddha masa depan dari bhadrakalpa)

III. ABHIDHAMMA Pitaka
“melampaui dhamma”, “dhamma tertinggi” atau “dhamma khusus”, analisa/ penjelasan filosofi sistematik akan alam pikiran, permasalahan dan waktu. Abhidhamma Pitaka memiliki tujuh buku:
– Dhammasangani (-saṅgaṇi atau -saṅgaṇī) Daftar, penjelasan dan klasifikasi mengenai dhamma
– Vibhanga (vibhaṅga) Analisa2
– Dhatukatha (dhātukathā)
– Puggalapannatti (-paññatti)
– Kathavatthu (kathā-) debat mengenai point-point pengajaran
– Yamaka prosedur mengenai pertanyaan lisan (seperti apakah X adalah Y? Apakah Y adalah X?)
– Patthana (paṭṭhāna) Analisis mengenai 24 jenis kondisi

Selain itu juga disusun
– Dongeng Jataka (dongeng tentang Buddha sebelum lahir, bodhisattva*-calon Buddha)
– Sutra Mahayana (Khotbah Tambahan)

* bodhisattva adalah setiap orang yang berada di jalan menuju Kebuddhaan .

================

Selanjutnya Ashoka menjadikan Buddha-Theravada sebagai agama resmi Kekaisaran Maurya & aktif mengirimkan misionaris Buddha ke berbagai wilayah hingga abad ke-8.(Maklumat Ashoka); Dhammavijaya (Kemenangan oleh Kebenaran)

SIDANG KEEMPAT
Tahun 83 SM – Konsili pengikut Buddha-Theravada ke-4 di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya, mengesahkan Kitab Suci Tipitaka (Pali).

MASA PENULISAN BIOGRAFI SANG BUDDHA
0-100 M – Masa penulisan Buddhacarita (biografi Buddha paling awal), sebuah puisi epik yang ditulis oleh penyair Aśvaghoṣa
200-300 M – Masa Penulisan Biografi Buddha Lalitavistara Sūtra, biografi Mahāyāna / Sarvāstivāda.

277 – 304 M – Masa penulisan Culavamsa berisi periode dari pemerintahan Mahasena dari Anuradhapura (277-304 M)

302 M Masa Penulisan Mahavamsa yang ditulis oleh ……seorang biksu Buddha di kuil Mahavihara, Anuradhapura.
Menceritakan sejarah Sri Lanka dari awal yang legendaris hingga pemerintahan Mahasena dari Anuradhapura (302 M) yang mencakup periode antara kedatangan Pangeran Vijaya dari India pada 543 SM hingga pemerintahannya (277–304 M)

300-400 M – Penulisan biografi Buddha lainnya; Mahāvastu dari Mahāsāṃghika Lokottaravāda.

Abad 5-6 M – Didirikan Nalanda, pusat studi Buddha Mahayana di wilayah kekaisaran Gupta. Sriwijaya di Sumatra juga mendirikan pusat studi agama Budhha Mahayana.Demikian Kisah Perkembangan Ajaran Buddha
Semoga Bermanfaat

Genghis Khun

BACA LEBIH LANJUT:
Wikipedia
https://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/09/ringkasan-ajaran-buddha.html
https://wirajhanaeka.wordpress.com/2016/03/18/terbentuknya-kitab-suci-tipitaka-dan-kemunculan-banyak-aliran-di-buddhisme/

Klik untuk mengakses Asoka.pdf


https://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/ajivaka.asp

https://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/10/negara-dimana-buddha-dibesarkan.html
https://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/10/negara-dimana-buddha-dibesarkan.html

https://www.jagranjosh.com/general-knowledge/the-origin-of-buddhism-and-jainism-1405336650-1
https://byjus.com/free-ias-prep/differences-and-similarities-between-buddhism-and-jainism/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s